Translate

Selasa, 31 Agustus 2010

Antara Kebenaran dan “Pembenaran”

Rating:★★★★★
Category:Other
Oleh: Fahmi Islam Jiwanto, MA

dakwatuna.com – Semua anak Adam selalu menginginkan terjadinya hal-hal yang benar, selalu ingin perilaku dan tindak tanduknya dinilai benar, selalu berharap orang lain memberikan kepadanya hal-hal yang benar…. Tetapi ternyata….. Ternyata hal-hal yang dianggap benar, atau dinilai benar tidak semuanya berdasarkan pada Kebenaran. Terkadang hal-hal yang terlihat atau tampak benar sebenarnya hanyalah berdasarkan pembenaran semata. Tidak semua kesalahan sulit dibungkus dengan retorika pembenaran. Tidak semua hawa nafsu telanjang tanpa pakaian pembenaran. Tidak semua kepalsuan terlihat apa adanya.

Ada jarak yang jauh antara kebenaran dengan (yang sekedar) pembenaran. Karena:

Kebenaran bersumber dari Allah, sedangkan pembenaran bersumber dari hati yang sakit.

Allah berfirman tentang kebenaran:

147. kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu Termasuk orang-orang yang ragu. (al-Baqarah: 147)

Sementara tentang pembenaran Allah berfirman:

10. dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

11. dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. mereka menjawab: “Sesungguhnya Kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (al-Baqarah: 10-11)

Kebenaran menenteramkan hati, sementara pembenaran hanyalah membuat hati guncang dan ragu.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadits diriwayatkan dari Wabishoh bin Ma’bad:

جِئْتَ تَسْأَلُنِي عَنْ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ؟ قُلْتُ نَعَمْ فَجَمَعَ أَصَابِعَهُ الثَّلَاثَ فَجَعَلَ يَنْكُتُ بِهَا فِي صَدْرِي وَيَقُولُ يَا وَابِصَةُ اسْتَفْتِ نَفْسَكَ الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَاطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي الْقَلْبِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ رواه أحمد

“Engkau bertanya kepadaku tentang kebaikan dan dosa.” Wabishoh menjawab, “Iya wahai Rasulullah.” Lalu Rasulullah mengumpulkan tiga jarinya dan menusukkannya ke dada Wabishoh, dan bersabda, ” Wahai Wabishoh, tanyalah hatimu. Kebaikan adalah sesuatu yang membuat hatimu tenang dan jiwamu tenteram. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang mengganjal di hatimu dan mengguncang dadamu, meskipun orang-orang sudah memberimu jawaban. (HR Ahmad juz 37 hal. 438 no. 17315)

Kebenaran bertahan lama, sementara pembenaran cepat atau lambat akan tersingkap kepalsuannya.

17. Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, Maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, Maka arus itu membawa buih yang mengambang. dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan. (ar-Ra’du: 17)

Kebenaran melahirkan kebaikan, sedangkan pembenaran melahirkan kerusakan.

Tentang akibat masyarakat yang menegakkan kebenaran Allah berfirman,

96. Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (al-A’raf: 96)

Tentang masyarakat yang didominasi oleh dosa Allah berfirman,

41. telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).(ar-Rum: 41)

Kebenaran terkadang kurang populer, sedangkan pembenaran selalu mengandalkan popularitas.

Allah berfirman:

116. dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah menduga-duga. (al-An’am: 116)

Sedangkan tentang orang-orang munafiq Allah menceritakan bagaimana mereka memakai sumpah palsu untuk mendapatkan popularitas, Allah berfirman,

62. mereka (orang-orang munafiq) bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allah untuk mencari keridhaanmu, Padahal Allah dan Rasul-Nya Itulah yang lebih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang mukmin. (at-Taubah: 62)

Allah juga berfirman

204. dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, Padahal ia adalah penantang yang paling keras. (Al-Baqarah: 204)

Kebenaran adalah sesuatu yang diperjuangkan orang mukmin, sementara pembenaran adalah hal selalu dipakai oleh orang munafik.

Nabi Syu’aib a.s. mengatakan

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (Hud: 88)

Nabi Syu’aib ketika mengatakan kebaikan, dia dalam posisi memperjuangkan kebenaran yang kadang tidak mendatangkan keuntungan untuknya.

Sedangkan pengguna topeng pembenaran menggunakan retorika untuk membela kepentingan dan mempertahankan zona amannya.

62. Maka Bagaimanakah halnya apabila mereka sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, Kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”.

63. mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka nasehat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. (an-Nisa’: 62-63)

Pencari kebenaran selalu mengintrospeksi dirinya, sedangkan pengguna pembenaran selalu menutupi cacatnya.

Rasulullah bersabda,

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ رواه الترمذي وابن ماجه

“Orang yang pandai adalah yang mengekang jiwanya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang lemah adalah yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan banyak berangan-angan terhadap Allah. (HR at-Turmudzi dan Ibnu Majah)

Kebenaran terkadang pahit dan tidak sesuai dengan hawa nafsu sedangkan pembenaran selalu mengikuti hawa nafsu.

Rasulullah SAW bersabda,

حُفَّتْ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتْ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ رواه البخاري ومسلم واللفظ له

“Surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka dikelilingi oleh syahwat.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Kebenaranlah yang pada akhirnya bermanfaat di akhirat, sedangkan pembenaran hanya akan mempersulit hisab seseorang.

13. pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.

14. bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri,

15. meskipun Dia mengemukakan alasan-alasannya. (al-Qiyamah: 13-15)

Semoga Allah memberi petunjuk dan kekuatan pada kita semua untuk mengetahui dan mengikuti kebenaran di mana pun dan kapan pun. Amiin. Allahu a’lam

Tak Semua Perbedaan Merugikan

Rating:★★★★
Category:Other
Oleh: Muhammad Nuh

Perbedaan kadang tak ubahnya seperti aneka pepohonan di sebuah taman. Ada tanaman yang berwarna kuning, merah, hijau, dan putih. Keanekaragaman itu menjadikan taman begitu indah. Sayangnya, hal seperti itu tidak sama dengan dunia nyata manusia.

Ada hal menarik pernah terjadi di masa Nabi Daud dan Sulaiman. Hubungan senior dan junior ini sesaat terlihat seperti renggang. Pasalnya, keduanya berselisih pendapat soal solusi sebuah kasus yang terjadi di lingkungannya.

Kasus itu memang tampak sederhana. Seorang pemilik ladang mengeluh tentang kerusakan ladangnya yang disebabkan sekawanan kambing milik orang lain. Sang pemilik ladang menuntut ganti rugi. Setelah dihitung-hitung, ternyata nilai kerusakan sama dengan harga kambing itu.

Nabi Daud berpendapat bahwa kambing-kambing itu diberikan ke pemilik ladang sebagai ganti rugi. Tapi, Nabi Sulaiman berpendapat lain: pemilik kambing harus menanam kembali dan merawat ladang yang rusak itu menjadi seperti sediakala. Dan selama perbaikan itu, kambing-kambing dipinjamkan ke pemilik ladang untuk dimanfaatkan: susu, bulu, dan lain-lainnya. Jika ladang sudah pulih seperti sediakala, kambing pun dikembalikan ke pemiliknya.

Ternyata, Allah swt. menyetujui pendapat Nabi Sulaiman. Firman Allah dalam surah Al-Anbiya ayat 78 hingga 79, “Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu. Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu….”

Tanpa sedikit pun merasa rendah, sang senior seperti Nabi Daud a.s. menerima pendapat juniornya, Nabi Sulaiman a.s., dengan lapang dada. Karena memang pendapat Nabi Sulaimanlah yang lebih bijak.

Pelajaran mengelola perbedaan itu punya makna tersendiri. Perbedaan merupakan keniscayaan. Siapa pun kita, tak akan mampu memaksa lahirnya keseragaman. Karena secara sunnatullah, Allah swt. menciptakan alam dan isinya termasuk manusia dengan penuh keragaman. “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. 49: 13)

Masalahnya, bagaimana menyikapi perbedaan. Apakah perbedaan ditangkap dari sudut pandang positif. Atau malah negatif.

Dua sudut pandang ini punya timbangan sendiri-sendiri. Perbedaan jadi positif manakala terjadi pada tingkat teknis atau cara. Dalam Islam, itu biasa disebut khilafiyah. Atau perbedaan dalam soal fikih.

Imam Malik rahimahullah pernah menolak tawaran Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur untuk menyeragamkan perbedaan seputar cara ibadah. Al-Mansur menawarkan agar semua orang berkiblat pada kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik. Beliau mengatakan, “Jangan kamu lakukan wahai khalifah. Karena sesungguhnya umat telah banyak memperoleh fatwa, mendengar hadits, meriwayatkan hadits. Dan mereka telah menjadikannya sebagai panduan amal. Mengubah mareka dari kebiasaan itu sungguh sesuatu yang sulit. Maka, biarkanlah umat mengerjakan apa yang mereka pahami.”

Salafus-shalih menempatkan perbedaan pendapat ini sebagai salah satu bentuk rahmat Allah. Umar bin Abdul Azis mengatakan, ” Saya tidak suka jika para sahabat tidak berbeda pendapat. Sebab jika mereka berada dalam satu kata saja tentu akan menyulitkan umat Islam. Merekalah para pemimpin yang menjadi teladan. Siapapun yang mengambil salah satu pendapat mereka tentulah sesuai dengan Sunnah.”

Rasulullah saw. pernah mengatakan, “Jika seorang hakim berijtihad dan ijtihadnya benar maka memperoleh dua pahala, dan jika ijtihadnya salah ia memperoleh satu pahala.”

Perbedaan menjadi negatif ketika wilayahnya menyentuh hal yang prinsipil, keyakinan. Buat yang satu ini, perbedaan tidak boleh terjadi. Karena dasar hukumnya sudah sangat jelas.

Nilai negatif dalam perbedaan juga muncul ketika yang jadi masalah bukan objek masalahnya. Tapi ketidaksiapan orang-orang yang berbeda. Di antara ketidaksiapan itu ada pada soal pemahaman. Tidak sedikit orang yang menganggap diri berbeda dan bangga dengan perbedaan hanya karena ketidaktahuan. Imam Syafi’i cuma mau mengukur perbedaan jika yang berbeda itu orang yang punya pemahaman. Beliau mengatakan, “Saya tidak pernah berdiskusi dengan siapapun, kecuali saya berharap agar kebenaran akan keluar darinya.”

Ketidaksiapan kedua adala masalah ego. Biasanya penyakit ini hinggap pada sosok senior atau orang yang berkuasa. Ia cuma mengakui kebenaran itu hanya bersumber dari dirinya. Dan yang lainnya berarti salah.

Betapa anggunnya akhlak seorang Khalifah Umar bin Khaththab ketika di sebuah kesempatan seorang muslimah mengajukan protes. Sesaat setelah orang nomor satu di Madinah itu mengeluarkan kebijakan soal mahar, seorang muslimah mengatakan, betapa beraninya engkau ya Umar mengalahkan firman Allah dalam ayat ini dan itu.

Saat itu juga, tanpa sedikit pun memperlihatkan kekecewaan, Umar meralat kebijakannya. Ia mengatakan, “Wanita itu betul. Dan Umar salah!”

Jadi, perbedaan sangat bergantung pada bagaimana penyikapan diberikan. Perlu ketelitian dan kedewasaan diri agar perbedaan bisa benar-benar positif. Tak ubahnya seperti indahnya keanekaragaman bunga-bunga di sebuah taman.

Kamis, 26 Agustus 2010

Mengenang 2 Tahun yang Lalu dan Membayangkan 2 Tahun ke Depan

DE BREVITATE VITAE

Gaudeamus igitur, iuvenes dum sumus!
Post iucundam iuventutem, post molestam senectutem
nos habebit humus.

Ubi sunt, qui ante nos in mundo fuere?
Scandite ad superos, vadite ad inferos,
ubi iam fuere!

Vita nostra brevis est, brevi finietur,
venit mors velociter, rapit nos atrociter,
nemini parcetur.

Vivat academia, vivant professores!
Vivat membrum quodlibet, vivant membra qualibet,
semper sint in flore!

Vivant omnes virgines, faciles, formosae!
Vivant et mulieres, tenerae, amabiles
bonae laboriosae!

Vivat et res publica et qui illam regit!
Vivat nostra civitas, Maecenatum caritas,
quae nos hic protegit!

Pereat tristitia, pereant osores!
Pereat diabolus, quivis antiburschius,
atque irrisores!


ROUGH TRANSLATION TO ENGLISH

Let us therefore rejoice while we are young;
After our pleasant youth, after troublesome old age
The ground will hold us.

Where are those who were in the world before us?
You may go up to the gods, you may cross into hell
If you wish to see them.

Our life is brief, it will shortly end;
Death comes quickly, cruelly snatches us;
No one is spared.

Long live the university, long live the teachers,
Long live each male student, long live each female student;
May they always flourish!

Long live all maidens, good-natured and beautiful!
Long live wives as well, tender, lovable,
Honest, hardworking.

Long live the state and those who rule it.
Long live our city, and the charity of benefactors
Which protects us here.

Let sadness perish, Let haters perish.
Let the devil perish, whoever is against the students,
And those who mock us!


---------------------------------------------------------------o0o-----------------------------------------------------------------------

Mungkin sebagian kita pernah mendengar lagu ini atau mungkin pernah menyanyikannya, kan?

Lagu ini identik dengan sebuah momen di akhir bangku kuliah, apa cobaaa??? ada yang inget?

Yaaa, hari ini saya mendengar lagu itu kembali bergema di sini..., di kampus ini...,, di sebuah gedung di antara danau kenanga dan rektorat.... Lagu itu bergema tepat saat saya melintasi Balairung menuju DRPM,, sepintas sempat ku lihat ada begitu banyak senyum dan tawa ceria di sekelilingku,, wajah-wajah sumringah itu, langkah-langkah kaki penuh semangat meski panas menyengat dan sedang puasa... Nyaris tak tampak ada wajah lesu di sana....

Sambil melintas dan memandangi mereka, tiba-tiba pikiranku terbang ke masa 2 tahun lalu, saat aku menjadi salah stu di antara mereka. Tapi tentu dengan gaya dan cara yang berbeda. Mengingat itu kadang jadi senyum-senyum sendiri. Seperti pemandangan hari ini, ku lihat para wanita disulap jadi begitu anggun dan cantik, entah berapa lama ia habiskan waktu di salon,, hooo mungkin setelah sahur langsung nongkrong di salon yaaa... 2 tahun lalu pun ku dapati teman-teman wanitaku menghabiskan waktu berjam-jam di salon untuk sekedar menghadiri momen ini, untuk sebuah upacara yang berlangsung tak sampai 1 jam... Kebaya terbaik pun telah disiapkan jauh hari sebelumnya... Hmm,, saat itu aku hanya bisa tersenyum, dan hari ini pun sama,, entah bagaimana dengan 2 tahun ke depan yaaaa....

Aku tak pernah meremehkan momen ini, namun harus ku akui, aku pun tak pernah begitu mengagungkan momen ini, sehingga prosesi ini ku lalui dengan biasa-biasa saja... Jangankan mempersiapkan kebaya, pakaian yang akan ku pakai saja baru ku pikirkan pas hari H, hasilnya? hahaha, aku pakai pakaian yang biasa ku pakai kuliah ke kampus dengan dalih, "buat apa ribet ribet sih kan ketutup toga juga bajunya, yang penting nyaman dan adem, balairung kalau banyak orang panas tau, hehe." Ke salon? tentu tidak, polos pokonya mah, tp tetep cantik ko ,, (dilarang protes! :p)

Oia, tadi di sepanjang jalan aku melihat ada begitu banyak penjaja bunga,, banyak mawar dengan aneka warna, ada juga rangkaian bunga aneka rupa... pasti untuk para wisudawan,, benar saja, siang setelah wisuda selesai, orang-orang bertoga pada pegang bunga,, wahhh, yang ngasih bunga banyak yaaa.... heu.....

Dulu kayaknya beres wisuda aku dan keluarga langsung ngibrit pulang deh,, boro-boro terima setangkai mawar, buat foto-foto aja udah males,, (payah!)
Tapi tadi liat banyak bunga jadi pengeeenn, hahahaha.....

Tadi juga pas balik dari DRPM, bareng dengan seorang dosen, ibu dewi, beliau bilang, "wah, pada seneng banget yaa yang diwisuda." trus, "bunga, kamu udah punya pacar?", what????? (dalam hati),, "nggak bu",, "trus pas wisudaan dulu siapa yang dampingi?", "ayah dan ibu dong", wkwkwkwk...... Fenomena lain seputar wisudaan selain para wanita dandan hebooohh (tabarruj) dan buang-buang banyak uang buat bikin kebaya baruuu, adalah sebelum wisuda pasti pada sibuk cari pendamping wisuda, haduuuhhhh.... mendadak banyak yang "jadian", menyedihkan! kalo mendadak banyak yang "nikah" sih bagus yaks, hehehehe...

Tuh, ada frame berpikir yang perlu diluruskan nih seputar wisuda... Ini kan hanya semacam pelantikan aja, puncak dari perjuangan kita di masa kuliah. Merayakannya ga perlu pake hura-hura kaliii, apalagi mpe harus nyari pendamping segala.... Harusnya saat seperti itu kita lebih banyak bersyukur dan merenung... Bersyukur karena telah melewati salah satu tahapan dalam hidup kita, bersyukur atas ilmu yang Allah titipkan kepada kita... Merenungi bahwa ini adalah amanah baru bagi kit, bagaimana agar ilmu yang kita peroleh di bangku kuliah dapat bermanfaat untuk umat, bukan buat sekedar aktualisasi diri atau kesombongan belaka... Harusnya mikir, what next??? karena yang akan kita masuki adalah kampus kehidupan, realita yang sebenarnya...., wild life, hohoohoo.... Mampukah kita menanggung amanah baru ini? Ataukah kita akan berakhir jd manusia tak berguna yang justru menambah beban bumi ini saja??

Insya Allah, 2 tahun lagi prosesi itu akan kembali ku alami (walaupun udah niat ga mau ikut wisuda sih :p),, tapi tentu dengan frame berpikir yang baru, yang lebih dewasa... Insya Allah...

Sejujurnya saya lebih suka merancang kehidupan 2 tahun ini yang kan kujalani, dan tahun-tahun ke depan setelah lulus ketimbang momen satu hari ini... ya iyalah!!!

Ini cuman sekelabat pikiran yang tiba-tiba muncul hari ini 27 Agustus 2010, saat Wisuda Mahasiswa S1 Reguler UI.... hmmm........