Translate
Rabu, 04 Agustus 2010
[bersyukurlah!] Apabila berada dalam kenikmatan, maka peliharalah, karena kemaksiatan akan menghilangkan nikmat-nikmat itu, peliharalah nikmat-nikmat itu dengan bertakwa kepada ALLAH, karena siksa dan balasan ALLAH itu sangat cepat. Penambahan (karunia) seseorang dalam kehidupannya di dunia adalah kekurangan dan keuntungannya. Tanpa ada nilai kebaikan adalah kerugian. Setiap naluri yang tidak mendapatkan ketenangan dan ketentraman, sebenarnya itu adalah kerugian besar.
Selasa, 03 Agustus 2010
WANITA-WANITA PENGUKIR SEJARAH (4)
| Rating: | ★★★★★ |
| Category: | Other |
Sumber: www.dakwatuna.com
Pada artikel sebelumnya telah dibahas profil beberapa wanita pengukir sejarah dari kalangan ummahat al-mukminin. Pada bagian selanjutnya akan dibahas dari kalangan anak-anak Rasulullah SAW. Pembaca yang budiman, kami ucapkan selamat menyimak!
B. Anak-anak Rasulullah SAW
1. Fatimah Az Zahra’
Nama lengkapnya adalah Fatimah binti Muhammad bin Abdullah bin abu Muthalib. la lahir lima tahun sebelum masa diutusnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. la merupakan putri termuda di antara putri-putri Nabi lainnya. la menikah dengan Ali Ra pada usianya yang ke 18 tahun. la merupakan ibu dari Hasan, Husain, Ummul Kultsum, dan Zaenab.
Ketika turun kepada Nabi sebuah ayat (dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya) di rumah Ummu Kultsum, maka Nabi memanggil Fatimah, Hasan dan Husain, dan menjadikan mereka sebagai pengikut, begitu pula Ali yang berada di belakang Nabi juga dijadikan sebagai pengikutnya pula. Maka berkatalah Nabi “Ya Allah! Mereka semua ini adalah keluargaku. Hilangkanlah dari mereka segala kotoran, dan bersihkanlah (sucikanlah) sebersih-bersihnya”. (Diriwayatkan oleh Turmudzi)
Miswar bin Makhramah berkata: aku mendengar Rasulullah Saw berkata di atas mimbar “bahwasanya Hisyam bin al Mughoyyaroh meminta izin kepadaku untuk menikahkan anak perempuan mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Namun aku tidak menyetujuinya, dan selanjutnya pun juga tetap tidak menyetujuinya. Kecuali jika Ali bin Abi Thalib bersedia menceraikan anak perempuanku dan menikah dengan anak-anak mereka. Sesungguhnya anak perempuanku itu (Fatimah Az-Zahra’) adalah bagian dariku.. ….”(HR Bukhari)
Berkatalah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa wanita paling mulia di surga nanti adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, istri Firaun yang bernama Asyiah binti Muzakhim, dan Maryam binti Imran. (HR Ahmad)
Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata “Aku bertemu dengan Fatimah. la berjalan sebagaimana layaknya Nabi berjalan. Dan di saat ia bertemu dengan Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam, berkatalah Nabi “selamat datang wahai putriku”, lalu nabi memintanya duduk di sebelah kanan atau kirinya. Kemudian di saat nabi mengatakan sesuatu kepadanya, menangislah ia. Maka aku langsung berkata kepadanya “kenapa kamu menangis?” Namun, di saat nabi mengatakan sesuatu lagi kepada Fatimah, maka ia pun tertawa riang. Sekali lagi, aku pun berkata kepada Fatimah “aku tidak pernah menjumpai kebahagiaan yang berdekatan dengan kesedihan sebagai mana hari ini” Maka aku bertanya kepadanya tentang apa yang telah dikatakan Nabi kepadanya. Berkatalah Fatimah “kamu jangan menyebarluaskan rahasia ini hingga Nabi wafat nanti.” Lalu aku menanyakan rahasia itu, maka berkatalah Fatimah” Nabi telah memberi isyarat kepadaku, dan berkata bahwa Jibril biasanya meminta kepadaku (Nabi) untuk membaca al-Qur’an secara langsung di hadapannya sekali dalam setahun. Namun pada tahun ini, Jibril memintaku (Nabi) sebanyak dua kali”, maka menangislah aku mendengar perkataan itu. Sebab, itu tandanya Nabi akan meninggalkan kita semua. Namun aku merasa sangat bahagia di saat Nabi berkata kepadaku “relakanlah dirimu menjadi ratu wanita-wanita penghuni surga, atau menjadi ratu wanita-wanita muslim.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari
Anas Ra berkata “di saat sakit Nabi mulai parah dan berselimut, berkatalah Fatimah “sakitkah wahai ayah?” Maka berkatalah Nabi kepadanya” ayahmu tidak akan mengalami kesusahan setelah hari ini.” Dan ketika Nabi wafat, berkatalah Fatimah “wahai ayah, Tuhan telah mengabulkan permohonanmu. Wahai ayah, surga firdaus adalah tempat kembalimu. Wahai ayah, Jibril lah yang akan memperhatikanmu.
Dari Aisyah Radhiyallahu Anha Ummul Mukminin (ibunya kaum beriman), berkata “aku tidak pernah melihat seorang pun yang mampu menyamai Fatimah dalam hal keserupaannya dengan Nabi. Ketenangan dan keistiqamahannya dalam duduk maupun berdiri sebagaimana ketenangan dan keistiqamahan Nabi. la di saat masuk ke rumah Nabi, Nabi langsung berdiri menyambut kedatangannya. Begitu pula di saat Nabi mengunjungi rumah Fatimah, ia pun beranjak dari tempat duduknya untuk menyambut Nabi, dan memberikan tempat duduknya kepada Nabi.” (Diriwayatkan oleh Turmudzi).
Ibnul Jauzi berkata “bahwa Rasulullah mempunyai anak perempuan yang dimuliakan oleh Fatimah, dan mempunyai istri-istri yang lebih dahulu dari Aisyah.”
Fatimah meninggal dunia 6 bulan setelah kematian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. la meninggal dunia dalam usianya yang ke 29 tahun.
2. ZAINAB
la adalah Zainab binti Muhammad bin Abdul Muthalib. la adalah anak perempuan tertua Rasulullah saw. Lahir sepuluh tahun sebelum masa kenabian Muhammad. la menikah dengan anak bibinya sendiri yang bernama Abu As bin Rabi’, yang pada waktu itu masih berstatuskan kafir. Pada perang Badar, suaminya tertangkap oleh kaum muslimin, sehingga terjadilah perpisahan antara Zainab dengan suaminya. Namun atas perintah ibunya (Khadijah), Zainab berusaha memberi tebusan kepada tentara Islam untuk membebaskan suaminya. Namun, akhirnya Nabi memisahkan ke dua pasangan itu. Nabi meminta kepada suami Zainab agar rela melepaskan Zainab. Suami Zainab pun akhirnya memenuhi permintaan Nabi itu. Ini terjadi setelah ia bepergian dengan segerombolan orang-orang Quraisy ke Mekah.
Suami Zainab pernah melarikan diri dari tahanan kaum muslimin pada saat masa penaklukan Mekah. Dan di saat ia pergi ke Madinah, Zainab berusaha menjadikannya sebagai orang bayaran. Maka bersabdalah Rasulullah menyikapi tindakan Zainab itu “setiap anak pasti menghormati orang tuanya, suamimu tak berhak atas dirimu selama ia masih dalam keadaan Syirik.”
Zainab dikaruniai dua orang anak, yaitu Ali dan Amman. Ali meninggal pada usia yang masih sangat belia, sedang Amman lah yang bisa tumbuh menjadi dewasa hingga akhirnya menikah dengan Khalifah Islam Ali bin Abi Thalib setelah ditinggal mati oleh Fatimah Az-Zahra’. Zainab meninggal dunia pada tahun 8 H.
3. RUQAYYAH
la adalah Ruqayyah binti Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Lahir tiga tahun setelah kelahiran Zainab, tepatnya 20 tahun sebelum Hijriyah. Ibunya adalah Khadijah yang dijuluki sebagai ibunya orang-orang beriman (Ummul Mukminin). la menikah dengan Attabah bin Abu Lahab. Namun pada saat turun ayat yang berbunyi “Tabbat Yada Abi Lahabiu wa Tabb”, maka marahlah abu Lahab dan meminta kepada putranya untuk menceraikan Ruqayyah, yang pada waktu itu masih dalam keadaan perawan.
Ruqayyah masuk Islam di saat ibunya (Khadijah) masuk Islam. la menikah lagi dengan Utsman bin Affan. la termasuk orang-orang yang ikut melakukan perpindahan (Hijrah) ke Habsy selama dua kali; yaitu hijrah ke Habsy yang pertama dan sekaligus hijrah ke Habsy yang ke dua. Dari pernikahannya dengan Usman bin Affan, ia dikaruniai seorang anak yang diberi nama dengan Abdullah, namun anaknya itu meninggal dunia pada usia 6 tahun. la di saat hendak dipersiapkan oleh Rasulullah dalam perang Badar, sedang menderita penyakit campak. Oleh karena itu, Usman bin Affan senantiasa menyertainya karena penyakitnya itu. la meninggal dunia pada tahun 2 Hijriyah, di saat Rasulullah masih berada di perang Badar.
Senin, 02 Agustus 2010
Sisi Lain Ramadhan
| Rating: | |
| Category: | Other |
Oleh: Ulis Tofa, Lc
Ramadhan mendorong hamba-hamba Allah swt untuk berpacu meningkatkan kuantitas dan kualitas amal. Sekaligus untuk menghargai waktu dan memanfaatkan secara optimal tempat-tempat yang di sukai Allah swt. Itulah tiga dimensi yang manusia pasti melalui, menghadapi, dan mengalaminya dalam kehidupan mereka. Yaitu, dimensi ruang, dimensi waktu dan dimensi perbuatan. Ketika manusia mampu mengendalikan ketiga dimensi tersebut, pastilah ia menjadi orang yang sukses, bahagia di dunia dan akhirat. Dan Ramadhan mengkondisikan hamba-hamba Allah swt. untuk mengendalikan tiga dimensi tersebut sekaligus secara efektif.
Dimensi Waktu
Saudaraku, Ramadhan menyuguhkan kepada kita waktu-waktu yang sangat mahal di mata Allah swt. Adalah waktu sahur, waktu menjelang berbuka, waktu sepertiga malam, bahkan waktu-waktu di saat manusia bero’da ketika kondisi shaum dikabulkan oleh Allah swt. Waktu dalam pandangan Islam sangat urgen dan vital. Allah swt di banyak kesempatan dalam Al Qur’an bersumpah dengan salah satu makhluk-Nya, yaitu waktu. Misalkan, Wal Ashri –Demi waktu ashar-, Wal fajri –Demi waktu fajar-, Wadl dluha –Demi waktu dluha- dst. Ketika Allah swt bersumpah dengan salah satu makhluk-Nya, maka para ahli tafsir sepakat bahwa objek sumpah itu menjadi sangat penting dan berharga di mata Allah swt.
Dalam konteks Ramadhan pun disebut bilangan waktu, ayyaamam ma’dudaat –hari-hari yang terhitung, terbatas- yang juga berarti penegasan untuk selalu memperhatikan waktu dan kesempatan. Allah swt berfirman:
”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu.” (QS. Al Baqarah: 183-184)
Sehingga penyair Arab mengatakan:
Anda adalah rangkaian dari hari-hari
Jika lewat satu hari
Maka berkuranglah jatah umur Anda
Saudaraku, tabiat waktu tidak bisa berulang kembali, tidak bisa diputar kembali. Satu hari lewat berarti itulah amal perbuatan yang Anda lakukan, tidak bisa diganti, ditambah, atau disempurnakan di hari lain. Maka ketika fajar merekah, berarti Anda menjadi makhluk baru untuk hari itu. Jatah umur ummat Muhammad adalah antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun. Bilangan yang tidak banyak, jika dibandingkan dengan umur ummat-ummat terdahulu yang sampai ratusan bahkan ribuan tahun.
Namun kita bisa lebih unggul dalam hal nilai dan keberkahan usia dibanding mereka, ketika kita mampu mengambil dan meraih keutamaan-keutamaan yang Allah swt suguhkan untuk kita, diantaranya adalah meraih lailatul Qadar. Saudaraku, Ramadhan men-tarbiyah atau mendidik kita untuk selalu menghargai jenak-jenak waktu kita. Hari, jam, menit dan detik untuk digunakan sebanyak-banyak kebaikan dan kemanfaatan, sampai ajal menjelang. Dalam do’a yang ma’tsur kita diajarkan Nabi saw. bermunajat ”Ya Allah, aku memohon kepada-Mu, agar Engkau menjadikan sebaik-baik umur kami pada akhirnya.”
Dimensi Ruang
Setiap manusia berasal dari tanah yang suci, akan kembali ke tanah pekuburan, dan akan dibangkitkan darinya di kemudian hari. QS. Al A’raf: 25. Nabiyullah Muhammad saw. dan ummatnya memiliki kekhususan yang tidak dimiliki oleh ummat-ummat sebelumnya, yaitu ”Bumi dijadikan Allah swt sebagai tempat sujud –masjid- dan suci.” begitu sabda Rasulullah saw.
Saudaraku, ketika manusia tidak bisa lepas dari dimensi ruang atau tempat ini, maka kita dikondisikan untuk selalu dalam kebaikan. Kita dianjurkan untuk pindah tempat ketika melaksanakan shalat sunnah misalkan, adalah dalam rangka agar tempat yang kita injak, bersimpuh, bersujud menjadi saksi kebaikan kita di akhirat kelak.
Sebaliknya, bumi, ruang, tempat, dinding di kiri-kanan, dan atap diatas langitan pun akan menjadi saksi perbuatan dosa atau maksiat. Barang mati itu akan dibuat berbicara oleh Allah swt di akhirat kelak. Seorang penyair berucap:
Di atas bumi mana
Di bawah langit mana
Aku bisa bermaksiat?
Karena bumi dan langit
Akan menjadi saksi
Apa yang aku perbuat
Ramadhan secara tersirat juga mengkondisikan kepada kita agar kita pandai menghargai dan mengoptimalkan ruang dan tempat yang di sukai Allah swt. Anjuran i’tikaf adalah dilakukan di baitullah atau masjid. Allah swt juga sangat mencintai majelis-majelis ilmu, dzikir, dan majelis taqarrub ilallah. Tempat kerja pun yang di dalamnya ditegakkan kejujuran, keteladanan, amanah, dan juga untuk kesejahteraan keluarga besar setiap yang bernaung di tempat kerja itu, bahkan untuk kepedulian sosial masyarakat adalah bagian dari yang disukai Allah swt.
Dimensi Perbuatan
Saudaraku, sanusia menjadi sukses atau bahagia bukan karena keturunan, karena jabatan, harta melimpah, juga bukan karena memiliki pendukung yang banyak.
Lihatlah Rasulullah saw. Di malam-malam bulan Ramadhan membangunkan putra-putrinya, Fatimah dan Ali radliyallahu ’anhum, dan dikatakan kepada mereka, ”Bangun, hidupkan malam dengan taqarrub ilallah, karena aku tidak bisa menolong kalian di akhhirat kelak. Kalian semua memiliki tanggung jawab sendiri-sendiri.” Yang menentukan sukses dan bahagia adalah amal perbuatan. Allah swt menyediakan surga-Nya hanya bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Karena sil’ah atau barang dagangan Allah swt itu sungguh sangat mahal. Ketahuilah, bahwa barang dagangan Allah itu Jannah. Allah swt berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim, Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka Itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al A’raf: 40-42)
Saudaraku, Ramadhan begitu menjanjikan banyak bonus dan pahala. Amalan wajib dilipatgandakan menjadi sepulu sampai tujuh puluh kali lipat. Amalan sunnah dihitung wajib. Do’a diijabah. Baca Al Qur’an dilipatgandakan kebaikannya, satu huruf senilai sepuluh kebaikan. Sedekah diterima. Memberi buka puasa mendapatkan pahala persis seperti orang yang berpuasa tersebut. Berbuka puasa sendiri berpahala. Mengakhirkan sahur berpahala. Berjihad, berdakwah, mencari ilmu, meringankan orang yang kesusahan dll. berpahala.
Semua kebaikan bernilai pahala. Sehingga dalam bahasa Nabi saw ”Pintu-pintu surga di buka lebar-lebar”. Sedangkan peluang maksiat dan dosa tereduksi ”Pintu-pintu neraka ditutup rapat-rapat.”
Saudaraku, sisi lain dari pesan Ramadhan kepada kita adalah bagaimana agar kita menjadi pemenang dalam mengendalikan usia kita, keberadaan kita dan perilaku kita sehari-hari. Allahu A’lam.
Kendalikan Waktu, Optimalkan Ramadhan
| Rating: | |
| Category: | Other |
Fiqih Kontemporer
29/8/2008 | 26 Sya'ban 1429 H | Hits: 4.145
Oleh: Tim dakwatuna.com
dakwatuna.com - Saudaraku, kami sangat senang sekali bisa mendampingi para pembaca dan kita semua untuk berusaha menjadi muslim dan muslimah yang kaffah, terutama sekali di Bulan Suci Ramadhan yang dalam hitungan hari lagi akan menjumpai kita. Menjadi muslim dan muslimah yang sukses meraih piala dan pahala dari Tuhan semesta.
Oleh karena itu, kami berusaha untuk memberi “acuan” kegiatan dan pengaturan atau pemanfaatan waktu selama Ramadhan dengan full ibadah. Di antara point-point itu adalah:
Pertama, Memanage Waktu.
Artinya menjadikan waktu yang dua puluh empat jam sehari itu penuh makna dan manfaat. Paradigma memenej waktu yang efektif dan efesien adalah bagaimana bisa meraih target besar dengan seminim cara dan sarana yang ada.
Harus diketahui terlebih dahulu, “apa target yang kita inginkan”, dari sini kita berusaha untuk memenej waktu sebaik mungkin.
Kedua, Menyusun Prioritas
Menyusun “Yang terpenting kemudian yang penting”, karena waktu yang tersedia tidak lah mencukupi untuk melaksanakan segala sesuatu. Waktu yang tersedia hanya cukup untuk melaksanakan yang penting saja. Kita harus menyusun daftar kegiatan, kerja, amal dan shedulle waktunya untuk kemudian dilaksanakan sesuai prioritas. Sudah waktunya kita tinggalkan rutinitas harian, dan lebih mengedepankan pada skala prioritas.
Ketiga, Gunakan Teknologi
Kita sudah sangat dimanja dengan kemajuan teknologi yang ada. Dalam rangka memenej waktu gunakanlah teknologi yang ada, seperti HP, komputer, radio, televisi dan lain-lainnya.
Ada beberapa langkah teknis guna membantu kita untuk sukses Ramadhan:
1. Tentukan apa yang Anda inginkan di Bulan Ramadhan secara garis besar, dalam point-point yang jelas. Seperti, mengkhatamkan Al Qur’an 4 kali. Tahajjud 10 rakaat, silaturrahim dengan kerabat dan seterusnya.
2. Usahakan target umum di atas dirinci secara detail. Seperti, khatam Al Qur’an 4 kali itu berarti, 120 Juz dibagi 30 Juz, sehingga sehari harus membaca 4 Juz. 1 Juz misalkan dibaca setelah shalat Subuh. Dua Juz setelah Ashar sampai Maghrib, dan 1 Juz ketika shalat tahajjud atau menjelang sahur. Demikian juga dengan kegiatan silaturrahim kerabat dan shalat malam… rencanakan dan laksanakan.
3. Mulai laksanakan. Jika ada yang harus direvisi, adakan revisi namun harus juga disertakan target yang jelas dan tahapan yang realistis.
4. Efisiensi setiap menit. Ingat nilai waktu laksana emas. Waktu adalah kehidupan. Optimalkan waktu di setiap kesempatan dan tempat. Seperti saat-saat menunggu atau antri. Jauhkan diri dari kebanyakan omong, karena sebaik-baik omongan adalah sedikit tapi berarti.
5. Ramadhan bulan shiam, bukan bulan makanan. Usahakan menggunakan waktu se-efesien mungkin dalam berurusan dengan makanan. Baik dalam penyajian atau dalam menyantapnya.
6. Pendelegasian… Jangan lakukan semua, kita hanya punya dua tangan saja. Kita tidak bisa melaksanakan segalanya. Dengan pendelegasian, menjadikan kita mampu menggunakan banyak tangan yang bisa merealisasikan banyak hal, seperti pendelegasian terhadap orang lain, anak kita, teman kita, tetangga kita, istri kita dan seterusnya.
7. Pertama dan terakhir adalah do’a. Do’a keberkahan waktu dalam ta’at, amal shaleh, dan agar Allah swt. menerima semua amal kita.
Akhirnya, marilah kita rencanakan dengan rapih apa yang kita inginkan di bulan Ramadhan, kemudian susun strategi pelaksanaannya, yang terbagi dalam setiap waktu dan hari atau shedule, selanjutnya laksanakan sesuai rencana, kemudian kita evaluasi dan revisi kekurangan untuk meraih apa yang kita inginkan. Yaitu sukses Ramadhan meraih piala dan pahala dari Allah swt. Allahu a’lam (ut)
Menjual Waktu dengan Pahala
| Rating: | |
| Category: | Other |
Tazkiyatun Nufus
31/7/2008 | 28 Rajab 1429 H | Hits: 6.924
Oleh: Muhammad Nuh
dakwatuna.com - “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al-hadid: 16)
Maha Suci Allah yang menggantikan malam dengan siang dan sore pun menyongsong malam. Hari berlalu menyusun pekan. Hitungan bulan-bulan pun membentuk tahun. Tanpa terasa, pintu ajal kian menjelang. Sementara, peluang hidup tak ada siaran ulang.
Siap atau tidak, waktu pasti akan meninggalkan kita
Sejauh apa pun satu tahun ke depan jauh lebih dekat daripada satu detik yang lalu. Karena waktu yang berlalu, walaupun satu detik, tidak akan bisa dimanfaatkan lagi. Ia sudah jauh meninggalkan kita.
Begitu pun dengan berbagai kesempatan yang kita miliki. Pagi ini adalah pagi ini. Kalau datang siang, ia tidak akan pernah kembali. Kalau kesempatan di pagi ini lewat, hilang sudah momentum yang bisa diambil. Karena, belum tentu kita bisa berjumpa dengan pagi esok.
Itulah yang pernah menggugah Umar bin Abdul Aziz. Suatu malam, karena sangat lelah, Umar menolak kunjungan seorang warga. “Esok pagi saja!” ucapnya spontan. Khalifah Umar berharap esok pagi ia bisa lebih segar sehingga urusan bisa diselesaikan dengan baik.
Tapi, sebuah ucapan tak terduga tiba-tiba menyentak kesadaran Khalifah kelima ini. Warga itu mengatakan, “Wahai Umar, apakah kamu yakin akan tetap hidup esok pagi?” Deg. Umar pun langsung beristighfar. Saat itu juga, ia menerima kunjungan warga itu.
Kalau kita menganggap remeh sebuah ruang waktu, sebenarnya kita sedang membuang sebuah kesempatan. Kalau pergi, kesempatan tidak akan kembali. Ia akan pergi bersama berlalunya waktu. “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.” (Al-Ashr: 1-2)
Siap atau tidak, jatah waktu kita terus berkurang
Ketika seseorang sedang merayakan hari ulang tahun, sebenarnya ia sedang merayakan berkurangnya jatah usia. Umurnya sudah berkurang satu tahun. Atau, hari kematiannya lebih dekat satu tahun. Dalam skala yang lebih luas, pergantian tahun adalah berarti berkurangnya umur dunia. Atau, hari kiamat lebih dekat satu tahun dibanding tahun lalu.
Ketika jatah-jatah waktu itu terus berkurang, peluang kita semakin sedikit. Biasanya, penyesalan datang belakangan. “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan: ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.” (Al-Fajr: 23-24)
Tak banyak yang sadar, begitu banyak peluang menghilang
Kadang, seseorang menganggap biasa mengisi hari-hari dengan santai, televisi, dan berbagai mainan. Bahkan ada yang bisa berjam-jam bersibuk-sibuk dengan video game. Sedikit pun tak muncul rasa kehilangan. Apalagi penyesalan.
Padahal kalau dihitung, amal kita akan terlihat sedikit jika dibanding dengan kesibukan rutin lain. Dengan usia tiga puluh tahun, misalnya. Selama itu, jika tiap hari seorang tidur delapan jam, ternyata ia sudah tidur selama 87.600 jam. Ini sama dengan 3.650 hari, atau selama sepuluh tahun. Dengan kata lain, selama tiga puluh tahun hidup, sepertiganya cuma habis buat tidur.
Jika orang itu menghabiskan empat jam buat nonton televisi, setidaknya, ia sudah menonton televisi selama 43.200 jam. Itu sama dengan 1.800 hari, atau lima tahun. Bayangkan, dari tiga puluh tahun hidup, lima tahun cuma habis buat nonton teve. Belum lagi urusan-urusan lain. Bisa ngobrol, curhat, ngerumpi, jalan-jalan, dan sebagainya.
Lalu, berapa banyak porsi waktunya buat ibadah? Kalau satu salat wajib menghabiskan waktu sepuluh menit, satu hari ia salat selama lima puluh menit. Ditambah zikir dan tilawah selama tiga puluh menit, ia beribadah selama delapan puluh menit per hari. Jika dikurangi sepuluh tahun karena usia kanak-kanak, ia baru beribadah selama 1.600 jam. Atau, 1,8 persen dari waktu tidur. Atau, 3,7 persen dari lama nonton teve.
Betapa banyak peluang yang terbuang. Betapa banyak waktu berlalu tanpa nilai. Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali, orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran.” (Al-Ashr: 1-3)
Tak seorang pun tahu, kapan waktunya berakhir
Tiap yang bernyawa pasti mati. Termasuk, manusia. Kalau dirata-rata, usia manusia saat ini tidak lebih dari enam puluhan tahun. Atau, setara dengan dua belas kali pemilu di Indonesia. Waktu yang begitu sedikit.
Saatnya buat orang-orang beriman memaknai waktu. Biarlah orang mengatakan waktu adalah uang. Orang beriman akan bilang, “Waktu adalah pahala!”
[Curcol] Ia Berdering
Kadang ia sepi tanpa suara, kadang ia berceracau sepanjang hari, kadang ia hanya sesekali menyapa.
Ada kalanya ku merindukan suaranya, namun ada kalanya juga aku berharap ia berhenti mengoceh dan membiarkanku dalam sepi.
Hari ini ia membuatku tersenyum dan merengut..
Sore hari, ia berdering, nampak di layar sebuah nama yang ku kenal.. Meski tanganku tengah sibuk memencet2 tuts laptop dan pikiranku sedang berkutat dgn angka2 mencapai milyaran, tp nama di layar itu membuatku tersenyum. Ku abaikan semua kerjaan yg tlah menyita hampir sepanjang hariku.. Sekitar seperempat jam aku mengobrol dg seorang saudari di seberang sana.. Menyenangkan dan mampu me-refresh segala kepenatanku hari ini. Dari pagi ia cukup rewel krang kring krang kring mulu, semuanya ngebahas kerjaan, butek kan! Jazakillah buat yang tadi nelpon yaaa, sangat menghibur..
Then, di penghujung sore, finishing touch, anggaran kudu kelar hari ini.. Eeeh, pas lg riweuh ngitung2, ia berdering lagi. Muncul di layar sebuah no telkomsel tak dikenal,, hmm, rada malas mengangkatnya.. Tp khawatir menyangkut kerjaan, terpaksa kuangkat deh.. Sial! Telpon kali ini benar2 ga penting banget!
Hallo, dengan ibu bunga?
Iya.
Bu, saya dari celebritis fitness (WHAT!!!), saya dapat no ibu dari member2 celebritis fitness, pasti merekat teman2 ibu.. Mereka merekomendasikan ibu utk mendapat voucher di sini
-pokonya tuh orang jelasin panjang lebar kali lama dan saya udh ga merhatiin lg, tuh hp saya taro di meja aja dan saya kembali pd kerjaan saya-
huhuhu, tuh nerima tu telpon bener2 buang2 wkt ajee. Tapi herannya, dia dapet no saya dr mana? Pdhl ni nomer cukup diproteksi, biasanya khusus mslh kerjaan dan tmn2 dkt doang. Ampuun dah, siapa sih member tu tmpt fitnes yg ngasi2 no saya. Saya ikut fitness?!? Yang bener aja, mendingan ngajak saya latihan bela diri deh! Pake manggil ibu segala lg, kpn jg saya jd emaknya..Huftt..,
udah ah, cukup curcolnyaa, udah menjelang maghrib ni..
Ada kalanya ku merindukan suaranya, namun ada kalanya juga aku berharap ia berhenti mengoceh dan membiarkanku dalam sepi.
Hari ini ia membuatku tersenyum dan merengut..
Sore hari, ia berdering, nampak di layar sebuah nama yang ku kenal.. Meski tanganku tengah sibuk memencet2 tuts laptop dan pikiranku sedang berkutat dgn angka2 mencapai milyaran, tp nama di layar itu membuatku tersenyum. Ku abaikan semua kerjaan yg tlah menyita hampir sepanjang hariku.. Sekitar seperempat jam aku mengobrol dg seorang saudari di seberang sana.. Menyenangkan dan mampu me-refresh segala kepenatanku hari ini. Dari pagi ia cukup rewel krang kring krang kring mulu, semuanya ngebahas kerjaan, butek kan! Jazakillah buat yang tadi nelpon yaaa, sangat menghibur..
Then, di penghujung sore, finishing touch, anggaran kudu kelar hari ini.. Eeeh, pas lg riweuh ngitung2, ia berdering lagi. Muncul di layar sebuah no telkomsel tak dikenal,, hmm, rada malas mengangkatnya.. Tp khawatir menyangkut kerjaan, terpaksa kuangkat deh.. Sial! Telpon kali ini benar2 ga penting banget!
Hallo, dengan ibu bunga?
Iya.
Bu, saya dari celebritis fitness (WHAT!!!), saya dapat no ibu dari member2 celebritis fitness, pasti merekat teman2 ibu.. Mereka merekomendasikan ibu utk mendapat voucher di sini
-pokonya tuh orang jelasin panjang lebar kali lama dan saya udh ga merhatiin lg, tuh hp saya taro di meja aja dan saya kembali pd kerjaan saya-
huhuhu, tuh nerima tu telpon bener2 buang2 wkt ajee. Tapi herannya, dia dapet no saya dr mana? Pdhl ni nomer cukup diproteksi, biasanya khusus mslh kerjaan dan tmn2 dkt doang. Ampuun dah, siapa sih member tu tmpt fitnes yg ngasi2 no saya. Saya ikut fitness?!? Yang bener aja, mendingan ngajak saya latihan bela diri deh! Pake manggil ibu segala lg, kpn jg saya jd emaknya..Huftt..,
udah ah, cukup curcolnyaa, udah menjelang maghrib ni..
Langganan:
Postingan (Atom)