Translate

Tampilkan postingan dengan label taubat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label taubat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Agustus 2010

Yang Kembali di Bulan Taubat

Rating:★★★★★
Category:Other
Oleh: Ulis Tofa, Lc

Cerita orang yang kembali pada Allah swt di bulan taubat ini sungguh sangat mengagumkan. Dengarlah seseorang yang taubat di bulan Ramadhan, ia mengungkapkan kegembiraan dan kebahagiannya:

“Sungguh indah Ramadhan, sungguh nikmat hari-harinya. Subhanallah! Semua kelezatan dan kenikmatan ini tidak pernah aku rasakan kecuali pada hari ini. Di mana mataku selama bertahun-tahun? Ya… bahkan diriku, dimana ketika bulan Ramadhan berada?. Sungguh, siapa yang bersungguh-sungguh dalam mengerjakan kebaikan, pasti akan mendapatkan. Siapa yang mencari jalan pasti ketemu. Siapa yang lari menuju Allah swt, pasti ditolong oleh-Nya… Sungguh benar firman Allah swt dalam Hadits Qudsy:”Barangsiapa mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat padanya sehasta.”

Subhanallah! Saya merasakan bahwa beban berat lenyap dari jiwaku. Dada ini rasanya lapang. Inilah kali pertama dalam hidupku aku paham ayat yang sering aku dengar di masjid kami: ”Barangsiapa yang dikehendaki Allah petunjuk, maka Allah melapangkan dadanya untuk mudah menerima petunjuk Islam. Dan siapa yang dikehendaki Allah sesat, maka dijadikan dadanya sesak, seakan ia menembus langit yang hampa udara.”

Ke mana rasa sempit itu menghilang? Kemana gundah-gulana yang menggelayuti jiwaku, sampai-sampai aku mau bunuh diri? Kemana keraguan, bisikan dan angan-angan itu? Kemana dahsyatnya kematian yang menyergap dalam tidurku?

Sungguh, sekarang saya sangat bahagia yang tidak terperi. Lapang dada. Lembut hati. Aku ingin menangis! Aku ingin munajat pada Tuhanku, mengakui dihadapan-Nya dosa-dosaku yang menggunung. Sebelumnya aku telah berbuat maksiat dan dosa. Namun aku pun shalat dan meninggalkan maksiat dan dosa itu. Aku pun merasakan bahagia… senang… dan haru.

Wahai imam, perdengarkan kepadaku Al Qur’an, untuk menghalau tipu daya syetan. Wahai iman, kenapa Ramadhan begitu cepat berlalu. Padahal aku baru kenal Ar Rahman, aku baru bisa meninggalkan dosa dan maksiat!!

Demi Allah, kalau bukan karena malu dengan orang yang duduk di sampingku, aku akan berteriak histeris: ”Aku akui nikmat-nikmat-Mu Ya Allah, aku bersyukur. Aku akui dosa-dosaku Ya Tawwab, aku bertaubat. Wahai Dzat Penerima taubat, ampunkan segala kesalahan dan dosaku. Sungguh hanya Engkau yang Menghapus dosa-dosa.”

Aku bergumam: ”Wahai imam, mengapa kamu potong daku lezatnya munajat! Mengapa kamu selesai sujud, menjadikan daku kehilangan lezatnya pengakuan dan pengaduan pada Dzat Yang Perkasa. Wahai imam, aku ingin menangis, sungguh kami sudah lama tidak menangis…

Sungguh manis engkau wahai Ramadhan… sungguh hari-harimu sangat indah… aku akan menyibukkan diri di hari dan malammu, bahkan jam dan detikmu… bagaimana tidak, sungguh aku menemukan diriku padamu!! Bukankah dalam hadits disebutkan: ”Sungguh celaka seseorang yang berjumpa dengan Ramadhan sedangkan ia tidak diampuni dosanya.”

Kita berada di depan Ramadhan. Setiap kita mempunyai harapan mendapat ampunan Dzat Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kita berjumpa dengannya dengan membawa segunung dosa yang memberatkan. Kita bertemu dengannya dengan membawa aib dan kesalahan yang tak terkira. Pada Allah kita berharap dan memohon.

Sungguh, rahmat-Nya, kasih-sayang-Nya, ampunan-Nya kami rindukan. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang, jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang Engkau tolak atas pintu maghfirah-Mu. Jua jangan Engkau jauhkan kami dari keutamaan dan kebaikan-Mu. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu keluasan rahmat-Mu.

Sungguh, harapan kami pada-Mu, Ya Allah sangatlah serius. Setiap kami pasti berbuat salah dan dosa. Akan tetapi harapan kami pada Dzat Yang Mengulurkan Tangan-Nya di malam hari, agar kembali para pendosa di siang hari. Pada Dzat Yang mengulurkan Tangan-Nya di siang hari, agar kembali para pendosa di malam hari.

“Wahai anak Adam, walau dosamu melangit, namun kamu beristighfar pada-Ku, pasti Aku akan ampuni kamu, dan Aku tidak peduli.”

Aku beristighfar, astaghfirullahal Adhiim. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Penyayang. Aku buka bulan mulya ini dengan taubatan nashuha. Dan betapa banyak kasih-sayang Allah aku rasakan pada hari-hari bulan taubat ini. Allahu A’lam.

Istighfar, Pesan Para Nabi

Rating:★★★★★
Category:Other
Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat”. (Hud: 3)

Surat Hud yang pernah membuat Abu bakar terkejut saat melihat rambut Rasulullah saw beruban yang dijawab oleh Rasulullah dengan sabdanya, “Surat Hud dan saudara2nya telah membuat rambutku beruban”, ternyata sarat dengan perintah beristighfar yang disampaikan melalui lisan para nabiyuLlah dari Hud as, sholih dan syu’aib as.

Tercatat ada empat ayat di dalam surat ini yang menyebut perintah beristighfar, yaitu pertama ayat 3 di atas, ayat 52, 61, dan 90. Bahkan yang menarik, bahwa secara korelatif, perintah beristighfar pada ayat-ayat tersebut diawali dengan perintah menyembah dan mengabdi semata-mata kepada Allah, seperti dalam surat Hud: 2 misalnya, “Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa khabar gembira kepadamu daripada-Nya” (Hud: 2).

Betapa tinggi nilai perintah beristighfar sehingga selalu berdampingan dengan perintah beribadah kepadanya. Sehingga merupakan satu kewajiban sekaligus kebutuhan seorang hamba kepada Allah swt karena secara fithrah memang manusia tidak akan bisa mengelak dari melakukan dosa dan kesalahan sepanjang hidupnya. Peluang ampunan ini merupakan anugerah rahmat yang terbesar bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.

Terkait dengan hal ini, kebiasaan beristighfar mereflesikan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya dan pengakuan akan Ke-Maha Pengampunan Allah swt. Istighfar juga merupakan cermin dari sebuah akidah yang mantap akan kesediaan Allah membuka pintu ampunannya sepanjang siang dan malam. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah senantiasa membuka tanganNya di siang hari untuk memberi ampunan kepada hambaNya yang melakukan dosa di malam hari, begitu pula Allah swt senatiasa membuka tangan-Nya di malam hari untuk memberi ampunan bagi hamba-Nya yang melakukan dosa di siang hari”.

Catatan lain yang bisa dikaji adalah bahwa perintah beristighfar di dalam Al-Qur’an juga selalu beriringan dengan perintah bertaubat,” Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam tafsir Al-Munir mengemukakan rahasia penggabungan perintah beristighfar dan bertaubat pada kebanyakan ayat-ayat Al-Qur’an bahwa tidak ada jalan untuk meraih ampunan Allah swt melainkan dengan menunjukkan perilaku dan sikap “taubat” yang diimplementasikan dengan penyesalan akan kesalahan masa lalu, melepas ikatan-ikatan (jaringan) kemaksiatan dalam segala bentuk dan sarananya serta tekad yang tulus dan jujur untuk tidak mengulangi kembali perbuatan-perbuatan dosa di masa yang akan datang. Dalam kaitan ini, taubat merupakan penyempurna dari istighfar seseorang agar diterima oleh Allah swt.

Secara aplikatif, kebiasaan beristighfar sudah dicotohkan oleh Rasulullah saw. Tercatat dalam sebuat riwayat Imam Muslim bahwa Rasulullah (memberi pelajaran kepada umatnya) senantiasa beristighfar setiap hari tidak kurang dari 70 kali. Bahkan di riwayat Imam Bukhari beliau beristighfar setiap hari lebih dari 100 kali (Bukhari Muslim). Pelajaran yang diambil dari prilaku Rasulullah ini adalah bahwa beristighfar tidak harus menunggu setelah melakukan kesalahan, tetapi bagaimana hendaknya aktifitas ini berlangsung senantiasa menghiasi kehidupan sehari-hari kita tanpa terkecuali.

Para malaikat yang jelas tidak pernah melanggar perintah Allah justru senantiasa beristighfar memohon ampunan untuk orang-orang yang beriman sebagai sebuah pelajaran yang berharga bagi setiap hamba Allah yang beriman, “(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala”. (Al-Mu’min: 7)

Berdasarkan kajian terhadap ayat-ayat yang berbicara tentang istighfar, paling tidak terdapat empat keutamaan dan nilai dari amaliah istighfar dalam kehidupan seorang muslim:

1. Istighfar merupakan cermin akan kesadaran diri orang-orang yang bertakwa. “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (Ali Imran: 135)

2. Istighfar merupakan sumber kekuatan umat. Kaum nabi Hud yang dikenal dengan kekuatan mereka yang luar biasa, masih diperintahkan oleh nabi mereka agar senantiasa beristighfar untuk menambah kekuatan mereka. “Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa”. (Hud: 52). Bahkan Rasulullah dalam salah satu haditsnya menegaskan bahwa eksistensi sebuah umat ditentukan diantaranya dengan kesadaran mereka untuk selalu beristighfar, sehingga bukan merupakan aib dan tidak merugi orang-orang yang bersalah lantas ia menyadari kesalahannya dengan beristighfar memohon ampunan kepada Allah swt.

3. Istighfar dapat menolak bencana dan menjadi salah satu sarana turunnya keberkahan dan rahmat Allah swt. Ibnu Katsir ketika menafasirkan surat Al-Anfal: 33 “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun” menukil riwayat dari Imam Tirmidzi bahwa Rasulullah saw bersabda, “Allah telah menurunkan kepadaku dua pengaman atau penyelemat bagi umat dari azab dan bencana, yaitu keberadaanku dan istighfar. Maka ketika aku telah tiada, masih tersisa satu pengaman hingga hari kiamat, yaitu istighfar”. Bahkan Ibnu Abbas menuturkan bahwa ungkapan istighfar meskipun keluar dari pelaku maksiat dapat mencegah dari beberapa kejahatan dan bahaya.

4. Istighfar akan memudahkan urusan seseorang, memudahkan jalan mencari rizki dan memelihara seseorang. Dalam konteks ini, Ibnu katsir menafsirkan suarat Hud : 52 dengan menukil hadits Rasulullah saw yang bersabda, “Barangsiapa yang mampu mulazamah atau kontinyu dalam beristighfar, maka Allah akan menganugerahkan kebahagiaan dari setiap duka dan kesedihan yang menimpanya, memberi jalan keluar dari setiap kesempitan dan memberi rizki dengan cara yang tidak disangka-sangka”. (Ibnu Majah)

Demikianlah, pesan yang disampaikan oleh para nabiyuallah kepada kaumnya sebagai salah satu solusi dari permasalahan mereka. Tentu istighfar yang dimaksud tidak hanya sekedar ucapan dengan lisan “astaghfirullah”, tetapi secara aplikatif sikap waspada, mawas diri dan berhati-hati dan bersikap dan berperilaku agar terhindar dari kesalahan. Dan jika terjermus ke dalam kemaksiatan segera sadar dan mampu bangkit dari kesalahan dengan bersungguh-sungguh bertaubat dalam arti menyuguhkan pengabdian dan karya yang lebih bermanfaat untuk umat. Allahu A’lam.

Senin, 05 Juli 2010

Dahsyatnya Sakaratul Maut

Dahsyatnya Rasa Sakit Saat Sakaratul Maut 

Sabda Rasulullah SAW : “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan 
tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi) 

Sabda Rasulullah SAW : “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon 
penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri 
itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?” 
(HR Bukhari) 

Atsar (pendapat) para sahabat Rasulullah SAW . 

Ka’b al-Ahbar berpendapat : “Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri 
yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya 
dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh 
yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa”. 

Imam Ghozali berpendapat : “Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul 
maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian 
orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut 
dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut 
dan kulit kepala hingga kaki”. 

Imam Ghozali juga mengutip suatu riwayat ketika sekelompok Bani Israil 
yang sedang melewati sebuah pekuburan berdoa pada Allah SWT agar Ia 
menghidupkan satu mayat dari pekuburan itu sehingga mereka bisa mengetahui 
gambaran sakaratul maut. Dengan izin Allah melalui suatu cara tiba-tiba 
mereka dihadapkan pada seorang pria yang muncul dari salah satu kuburan. 
“Wahai manusia !”, kata pria tersebut. “Apa yang kalian kehendaki dariku? 
Limapuluh tahun yang lalu aku mengalami kematian, namun hingga kini rasa 
perih bekas sakaratul maut itu belum juga hilang dariku.” 

Proses sakaratul maut bisa memakan waktu yang berbeda untuk setiap orang, 
dan tidak dapat dihitung dalam ukuran detik seperti hitungan waktu dunia 
ketika kita menyaksikan detik-detik terakhir kematian seseorang. Mustafa 
Kemal Attaturk, bapak modernisasi (sekularisasi) Turki, yang mengganti 
Turki dari negara bersyariat Islam menjadi negara sekular, dikabarkan 
mengalami proses sakaratul maut selama 6 bulan (walau tampak dunianya 
hanya beberapa detik), seperti dilaporkan oleh salah satu keturunannya 
melalui sebuah mimpi. 

Rasa sakit sakaratul maut dialami setiap manusia, dengan berbagai macam 
tingkat rasa sakit, ini tidak terkait dengan tingkat keimanan atau 
kezhaliman seseorang selama ia hidup. Sebuah riwayat bahkan mengatakan 
bahwa rasa sakit sakaratul maut merupakan suatu proses pengurangan kadar 
siksaan akhirat kita kelak. Demikianlah rencana Allah. Wallahu a’lam bis 
shawab. 

Sakaratul Maut Orang-orang Zhalim 
Imam Ghozali mengutip sebuah riwayat yang menceritakan tentang keinginan 
Ibrahim as untuk melihat wajah Malaikatul Maut ketika mencabut nyawa orang 
zhalim. Allah SWT pun memperlihatkan gambaran perupaan Malaikatul Maut 
sebagai seorang pria besar berkulit legam, rambut berdiri, berbau busuk, 
memiliki dua mata, satu didepan satu dibelakang, mengenakan pakaian serba 
hitam, sangat menakutkan, dari mulutnya keluar jilatan api, ketika 
melihatnya Ibrahim as pun pingsan tak sadarkan diri. Setelah sadar Ibrahim 
as pun berkata bahwa dengan memandang wajah Malaikatul Maut rasanya sudah 
cukup bagi seorang pelaku kejahatan untuk menerima ganjaran hukuman 
kejahatannya, padahal hukuman akhirat Allah jauh lebih dahsyat dari itu. 

Kisah ini menggambarkan bahwa melihat wajah Malaikatul Maut saja sudah 
menakutkan apalagi ketika sang Malaikat mulai menyentuh tubuh kita, 
menarik paksa roh dari tubuh kita, kemudian mulai menghentak-hentak tubuh 
kita agar roh (yang masih cinta dunia dan enggan meninggalkan dunia) lepas 
dari tubuh kita ibarat melepas akar serabut-serabut baja yang tertanam 
sangat dalam di tanah yang terbuat dari timah keras. 

Itulah wajah Malaikatul Maut yang akan mendatangi kita kelak dan 
memisahkan roh dari tubuh kita. Itulah wajah yang seandainya kita 
melihatnya dalam mimpi sekalipun maka kita tidak akan pernah lagi bisa 
tertawa dan merasakan kegembiraan sepanjang sisa hidup kita. 

Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim 
(berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul 
dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”. Di hari ini 
kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu 
mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu 
selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (QS Al-An’am 6:93) 

(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan 
berbuat lalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri 
(sambil berkata); “Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatan 
pun”. (Malaikat menjawab): “Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa 
yang telah kamu kerjakan”. Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu 
kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang 
menyombongkan diri itu. (QS, An-Nahl, 16 : 28-29) 

Di akhir sakaratul maut, seorang manusia akan diperlihatkan padanya wajah 
dua Malaikat Pencatat Amal. Kepada orang zhalim, si malaikat akan berkata, 
“Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik, engkaulah yang membuat 
kami terpaksa hadir kami ke tengah-tengah perbuatan kejimu, dan membuat 
kami hadir menyaksikan perbuatan burukmu, memaksa kami mendengar 
ucapan-ucapan burukmu. Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik ! “ 
Ketika itulah orang yang sekarat itu menatap lesu ke arah kedua malaikat 
itu. 

Ketika sakaratul maut hampir selesai, dimana tenaga mereka telah hilang 
dan roh mulai merayap keluar dari jasad mereka, maka tibalah saatnya 
Malaikatul Maut mengabarkan padanya rumahnya kelak di akhirat. Rasulullah 
SAW pernah bersabda, “Tak seorangpun diantara kalian yang akan 
meninggalkan dunia ini kecuali telah diberikan tempat kembalinya dan 
diperlihatkan padanya tempatnya di surga atau di neraka”. 

Dan inilah ucapan malaikat ketika menunjukkan rumah akhirat seorang zhalim 
di neraka, “Wahai musuh Allah, itulah rumahmu kelak, bersiaplah engkau 
merasakan siksa neraka”. Naudzu bila min dzalik! 

Sakaratul Maut Orang-orang Yang Bertaqwa 
Sebaliknya Imam Ghozali mengatakan bahwa orang beriman akan melihat rupa 
Malaikatul Maut sebagai pemuda tampan, berpakaian indah dan menyebarkan 
wangi yang sangat harum. 

Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah 
diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) 
kebaikan”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat 
(pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik 
dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (yaitu) surga Adn 
yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di 
dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. 
Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. 
(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat 
dengan mengatakan (kepada mereka): “Assalamu alaikum, masuklah kamu ke 
dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. (QS, An-Nahl, 16 
: 30-31-32) 

Dan saat terakhir sakaratul mautnya, malaikatpun akan menunjukkan surga 
yang akan menjadi rumahnya kelak di akhirat, dan berkata padanya, 
“Bergembiaralah, wahai sahabat Allah, itulah rumahmu kelak, bergembiralah 
dalam masa-masa menunggumu”. 
Wallahu a’lam bish-shawab. 

Semoga kita yang masih hidup dapat selalu dikaruniai hidayah-Nya, berada 
dalam jalan yang benar, selalu istiqomah dalam keimanan, dan termasuk umat 
yang dimudahkan-Nya, selama hidup di dunia, di akhir hidup, ketika 
sakaratul maut, di alam barzakh, di Padang Mahsyar, di jembatan jembatan 
Sirath-al mustaqim, dan seterusnya. 

Allahumma Amin..

Dzikrul Maut

“Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara 
sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, 
niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri 
kalian sendiri”. (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan). 

Datangnya Kematian Menurut Al Qur’an : 

1. Kematian bersifat memaksa dan 
siap menghampiri manusia walaupun kita berusaha menghindarkan 
resiko-resiko kematian. Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, 
niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar 
(juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk 
menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada 
dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (QS Ali Imran, 3:154) 

2. Kematian akan mengejar siapapun meskipun ia berlindung di balik benteng 
yang kokoh atau berlindung di balik teknologi kedokteran yang canggih 
serta ratusan dokter terbaik yang ada di muka bumi ini. Di mana saja kamu 
berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng 
yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka 
mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu 
bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. 
Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang 
itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun? 
(QS An-Nisa 4:7 8) 

3. Kematian akan mengejar siapapun walaupun ia lari menghindar. 
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka 
sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan 
dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, 
lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS al-Jumu’ah, 
62: 8) 

4. Kematian datang secara tiba-tiba. Sesungguhnya Allah, hanya pada 
sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang 
menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada 
seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan 
diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi 
mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. 
(QS, Luqman 31:34) 

5. Kematian telah ditentukan waktunya, tidak dapat ditunda atau dipercepat 
Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila 
datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu 
kerjakan. (QS, Al-Munafiqun, 63:11) 



Rabu, 14 April 2010

MERAIH AMPUNAN ALLAH SWT

Rating:
Category:Other
Diterjemahkan Oleh: Abu Fatah Amrulloh dari Penjelasan Hadits Arba’in No. 42 Syaikh Shalih bin ‘Abdul Aziz Alu Syaikh hafizhohulloh
Murojaah: Ustadz Abu Ukasyah Aris Munandar

Dan dari Anas bin Malik radhiallohu ‘anhu beliau berkata: Rosululloh shalallohu ‚alaihi wa sallam bersabda: “Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: ‘Wahai anak adam, sesungguhnya jika engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu dan Aku tidak akan memperdulikannya lagi. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu memenuhi seluruh langit, kemudian engkau memohon ampun padaku, niscaya Aku akan mengampunimu. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepadaku dengan kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau menjumpaiku dalam keadaan tidak berbuat syirik dengan apapun niscaya aku akan datang kepadamu dengan pengampunan sepenuh bumi pula. (HR Tirmidzi, beliau berkata: “hadits ini hasan”) Wallohu a’lam, semoga sholawat tercurah pada nabi Muhammad.

Penjelasan:
Dari Anas radhiallohu ‘anhu beliau berkata: Saya mendengar Rosululloh ¬shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: [Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,’ Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu dan Aku tidak akan memperdulikannya lagi] Yang dimaksud [“Anak Adam”] pada perkataan ini adalah seorang muslim yang mengikuti risalah rosul yang diutus kepadanya. Maka orang-orang yang mengikuti risalah nabi Musa ‘alaihi salam pada zamannya, maka dia termasuk orang yang diseru dengan panggilan ini. Orang-orang yang mengikuti risalah nabi Isa ‘alaihi salam pada zamannya, maka dia juga termasuk orang yang diseru dengan panggilan ini. Adapun setelah diutusnya Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang yang mendapatkan balasan dan keutamaan seperti yang disebutkan dalam hadits ini adalah mereka yang mengikuti Al Musthofa (Nabi Muhammad) shalallahu ‘alaihi wa sallam, beriman bahwa risalah yang beliau bawa adalah penutup risalah para nabi, mengakui kenabian dan risalah yang beliau bawa dan mengikuti petunjuk beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Alloh jalla wa ‘ala berfirman pada hadits ini: [Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu dan Aku tidak akan memperdulikannya lagi] Kalimat ini memiliki makna yang serupa dengan firman Alloh jalla wa ‘ala:

قُلْ يَاعِبَادِي الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لاَتَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Az Zumar: 53)

Jika seorang hamba melakukan perbuatan dosa kemudian segera bertaubat, berdoa kepada Alloh jalla wa ‘ala agar Ia mengampuninya serta mengharapkan ampunan-Nya, maka Alloh akan mengampuni dosa-dosanya selama dia bertaubat karena “Taubat itu menghapus dosa-dosa sebelumnya”.

Kemudian Alloh jalla wa ‘ala berfirman pada hadits ini: “sesungguhnya jika engkau berdoa dan berharap kepada-Ku”. Kalimat ini menjelaskan bahwa doa disertai dengan harapan akan menyebabkan Alloh mengabulkan permohonan ampun. Ada sebagian orang yang berdoa pada Robb-Nya dengan harapan yang lemah dan tidak berhusnuzhon pada Robb-Nya padahal Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,”Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: ‘Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku pada-Ku maka hendaklah berprasangka pada-Ku sebagaimana dia kehendaki”. Jika seorang hamba berdoa untuk memohon ampun atas segala dosa-dosanya maka hendaknya dia berdoa untuk memohon ampun pada Alloh dengan berkeyakinan bahwa Alloh memiliki kemurahan yang sangat besar dan dia berharap bahwa Alloh akan mengampuni dosa-dosanya. Orang yang melakukan hal ini, niscaya Alloh akan mengampuni dosa-dosanya.

Maka jika seseorang telah memiliki rasa harap yang sangat besar pada Alloh dan yakin bahwa Alloh akan mengampuninya niscaya dia akan mendapatkan apa yang ia cari. Hal tersebut dikarenakan besarnya rasa harap dan prasangka yang baik pada Alloh. Banyak ibadah-ibadah hati (ibadah qolbiyyah) yang harus dilakukan oleh seorang pelaku dosa ketika memohon ampun dan bertaubat. Banyak ibadah-ibadah hati yang harus dilakukan agar perbuatan dosa diampuni sebagai karunia dan kemuliaan dari Alloh jalla wa ‘ala.

Kemudian Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: “niscaya Aku akan mengampunimu”. Pengampunan (المغفرة) memiliki makna menutup bekas-bekas dosa di dunia dan akhirat. Pengampunan tidak sama dengan menerima taubat, karena pengampunan memiliki makna menutup (ستر). Mengampuni sesuatu (غفر الشيء) memiliki makna menutup sesuatu (ستره). Menutup dosa-dosa memiliki makna bahwa Alloh jalla wa ‘ala akan menutup dampak-dampak dosa di dunia dan akhirat. dampak dosa di dunia adalah balasan atas perbuatan dosa tersebut di dunia, sedangkan dampak dosa di akhirat adalah balasan atas perbuatan dosa tersebut di akhirat. Barang siapa yang memohon ampun pada Alloh jalla wa ‘ala maka dia akan diampuni oleh Alloh. Barang siapa yang meminta pada Alloh agar Ia menutupi dampak dosanya di dunia dan akhirat maka Alloh akan menutupinya. Alloh akan menutup dampak dosa-dosanya dengan tidak memberikan balasan atas dosanya di dunia dan akhirat.

Kemudian Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: [Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu memenuhi seluruh langit]. Dosa tersebut memenuhi langit (awan yang tinggi) karena jumlahnya yang banyak dan bertumpuk-tumpuk.

Kemudian Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: [kemudian engkau memohon ampun pada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu]. Perbuatan ini adalah perbuatan seorang hamba yang bertaubat dan mencintai Robbnya dengan kecintaan yang mendalam. Karena Alloh -Yang Maha Agung, Yang Memiliki nama dan sifat yang mulia, indah dan sempurna, yang menguasai seluruh kerajaan, Dialah yang menguasai dan melindungi segala sesuatu, yang memiliki berbagai macam nama dan sifat yang agung dan mulia- akan mencintai hambanya dengan kecintaan seperti ini. Maka tidak diragukan lagi, hal ini akan membuat hati mencintai Robbnya, merasa hina di hadapan-Nya dan mendahulukan ridho-Nya daripada ridho selain-Nya.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: [Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu memenuhi seluruh langit kemudian engkau memohon ampun padaku, niscaya Aku akan mengampunimu]. Dalam kalimat ini terdapat dorongan untuk senantiasa memohon ampunan. Jika engkau berbuat dosa maka beristigfarlah karena sesungguhnya tidak cukup istigfar kita walaupun dilakukan sebanyak 70 kali dalam setiap hari seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits. Dengan beristigfar dan menyesal maka Alloh akan mengampuni segala dosa.

Kemudian Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: "Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepadaku dengan kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau menjumpaiku dalam keadaan tidak berbuat syirik dengan apapun niscaya aku akan datang kepadamu dengan pengampunan sepenuh bumi pula". Jika anak Adam datang dengan dosa sepenuh bumi, kemudian menjumpai Alloh dalam keadaan memurnikan ibadah hanya untuk-Nya dan tidak berbuat syirik kepada-Nya baik syirik besar, syirik kecil maupun syirik yang tersembunyi, hatinya ikhlas hanya kepada Alloh, tidak ada pada hatinya kecuali Alloh dan tidak merasa cemas kecuali hanya kepada-Nya, tidak berharap kecuali hanya kepada-Nya, tidak berbuat syirik dalam bentuk apapun pada-Nya, niscaya Alloh jalla wa ‘ala akan mengampuni seluruh dosa-dosanya.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: “kemudian engkau menjumpaiku dalam keadaan tidak berbuat syirik dengan apapun niscaya aku akan datang kepadamu dengan pengampunan sepenuh bumi pula”. Hal ini menunjukkan kebaikan dan besarnya rahmat Alloh pada para hamba-Nya.

Ya Alloh segala puji bagi-Mu atas nama-nama dan sifat-Mu. Ya Alloh segala puji bagi-Mu atas nikmat syariat Islam yang engkau berikan pada kami. Ya Alloh segala puji bagi-Mu atas nikmat diutusnya nabi-Mu Muhammad ‘alaihi sholatu wa sallam yang engkau berikan pada kami. Ya Alloh segala puji bagi-Mu atas anugerah yang engkau berikan pada kami untuk mengikuti jalan para salafushalih. Ya Alloh segala puji bagi-Mu atas anugerah-Mu pada kami berupa ampunan untuk segala dosa, menunjukkan pada perbuatan baik, dan mengampuni segala kesalahan. Ya Alloh segala puji bagi-Mu atas nikmat-Mu yang Agung. Ya Alloh segala puji bagi-Mu dan engkaulah yang paling berhak untuk mendapatkan seluruh pujian.

Sumber: http://muslim.or.id/?p=419