Translate

Tampilkan postingan dengan label ukhuwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ukhuwah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Februari 2011

Indahnya Hariku Bersamamu, Bersamanya, Bersama Mereka....

Bismillahirromaanirrohiim...

Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillahirobbil'aalamiin...

Kesyukuran yang luar biasa karena saya selalu dikelilingi orang-orang baik. Sungguh keberuntungan yang tiada tara memiliki saudara-saudari terbaik yang, yang selalu dinaungi kebaikan, menyeru kepada yang ma'ruf dan mencegah yang munkar. Sungguh beruntung ada di antara orang-orang baik, merasakan energi positif yang mereka pancarkan.

Mungkin selama ini saya terlalu terlena dengan berkah ini, keberkahan berada dalam lingkungan orang-orang baik, sehingga saya sering kali lupa mensyukuri nikmat ini...

Teringat perkataan salah satu sahabat terbaik Rasulullah,


"Selain nikmat Islam , seseorang tidak diberi nikmat yang lebih baik dari seorang sahabat yang sholih. Maka jika seorang di antara kalian melihat kasih sayang dari saudaranya, pertahankanlah itu." (Umar bin Khatthab)


"Janganlah kamu bersahabat dengan orang-orang fasiq meski hanya untuk mengenal kejahatan mereka. Hindari musuhmu dan waspadalah terhadap temanmu sekalipun, kecuali orang yang memegang amanah.
Sementara orang yang memegang amanah hanyalah orang yang takut kepada Allah dan tunduk untuk ketaatan. Lalu mintalah pemeliharaan dari Allah untuk terhindar dari maksiat dan bermusyawarahlah dengan orang-orang yang bertaqwa kepada Allah."
(Umar bin Khathtab)



"Hendaknya engkau mencari sahabat yang jujur, niscaya engkau akan hidup aman dalam lindungannya. Mereka merupakan hiasan pada saat gembira dan hiburan saat berduka.
Letakan urusan saudaramu pada tempat terbaik, sampai dia datang kepadamu untuk mengambil apa yang dititipkan kepadamu.
Janganlah bersahabat dengan orang keji, karena engkau bisa belajar kefasikan. Jangan engkau bocorkan rahasiamu kepadanya.
Dan mintalah pendapat dalam menghadapi persoalan kepada sahabat yang takut pada Allah."
(Umar bin Khatthab)


Sungguh sebuah anugerah tak ternilai saat kita selalu ditempatkan bersama orang-orang sholih, yang selalu mengajak kita pada kebaikan dan menjauhkan kita dari berbagai bentuk kemaksiatan.


Ada saatnya iman kita tinggi, tapi ada saat dimana kita futur, di saat futur inilah seorang sahabat yang sholih akan menjadi pengingat yang mampu mengembalikan kualitas keimanan kita. Bayangkan jika di saat futur justru kita terperangkap tangan setan melalui perantara teman kita yang tidak baik, bayangkan apa yang bisa terjadi pada kita? terjerumus dalam kenyamanan kondisi diri yang futur, lalu mulai mendekati kemaksiatan, dan habislah iman kita... Berhati-hatilah dengan orang-orang terdekat kita,


Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.(HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa.) 


Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Dan hadits ini juga menunjukkan dorongan agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia." (Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 4/324, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379)


Itulah pentingnya bergaul dengan orang-orang yang sholih. Oleh karena itu, sangat penting sekali mencari lingkungan yang baik dan mencari sahabat atau teman dekat yang semangat dalam menjalankan agama sehingga kita pun bisa tertular aroma kebaikannya. Jika lingkungan atau teman kita adalah baik, maka ketika kita keliru, ada yang selalu menasehati dan menyemangati kepada kebaikan.


Ya Rabb, terima kasih atas orang-orang baik yang Kau kirimkan padaku, atas saudara-saudara, sahabat-sahabat, dan teman-teman yang sholih, yang selalu ada untukku. Yang membuatku mampu bertahan di sini...


Mereka yang selalu menjadi inspirasi nilai-nilai kebaikan, mereka yang menjadi partner dalam menelurkan nilai-nilai kebaikan yang banyak, mereka yang keluhannya pun tentang dakwah, mereka yang isi kepalanya adalah ide-ide terbaik untuk mencetak generasi terbaik, ya.. aku bersyukur ada di antara orang-orang baik yang kebaikannya memancar untuk lingkungannya... Orang-orang yang sibuk dengan amal-amal kebaikan, dan tak sempat memikirkan hal-hal yang melalaikan... Orang-orang baik itu ada di dekatku, merekalah yang selalu menemaniku, merakalah sumber inspirasiku...


Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?


Subhanallahi Walhamdulillahi Allahu Akbar....


Bogor, 2 Februari 2011

Bunga Karang


Kamis, 20 Januari 2011

GAIRAH CINTA DAN KELESUAN UKHUWAH

Rating:★★★★
Category:Other
GAIRAH CINTA DAN KELESUAN UKHUWAH
Ditulis oleh Alm. Ust. Rahmat Abdullah
Jumat, 27 Juni 2008 23:36 -

Mungkin terjadi seseorang yang dahulunya saling mencintai akhirnya saling memusuhi dan sebaliknya yang sebelumnya saling bermusuhan akhirnya saling berkasih sayang. Sangat dalam pesan yang disampaikan Kanjeng Nabi SAW:

"Cintailah saudaramu secara proporsional, mungkin suatu masa ia akan menjadi orang yang kau benci. Bencilah orang yang kau benci secara proporsional, mungkin suatu masa ia akan menjadi kekasih yang kau cintai." (Hadist Sahih Riwayat Tirmidzi, Baihaqi, Thabrani, Daruquthni, Ibn Adi, Bukhari).

Ini dalam kaitan interpersonal.

Dalam hubungan kejamaahan, jangan ada reserve kecuali reserve syar'i yang menggariskan aqidah
"La tha'ata limakhluqin fi ma'shiati'l Khaliq" (Tidak boleh ada ketaatan kepada makhluq dalam bermaksiat kepada Alkhaliq).
(Hadist Sahih Riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad dan Hakim).

Doktrin ukhuwah dengan bingkai yang jelas telah menjadikan dirinya pengikat dalam senang dan susah, dalam rela dan marah. Bingkai itu adalah :
"Level terendah ukhuwah (lower), jangan sampai merosot ke bawah garis rahabatus'shadr (lapang hati) dan batas tertinggi tidak (upper) tidak melampaui batas itsar (memprioritaskan saudara diatas kepentingan diri).”

GAIRAH CINTA DAN KELESUAN UKHUWAH

Karena bersaudara di jalan ALLAH telah menjadi kepentingan dakwah-Nya, maka "kerugian apapun" yang diderita saudara-saudara dalam iman dan da'wah, yang ditimbulkan oleh kelesuan, permusuhan ataupun pengkhianatan oleh mereka yang tak tahan beramal jama'i, akan mendapatkan ganti yang lebih baik.

"Dan jika kamu berpaling, maka ALLAH akan gantikan dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan jadi seperti kamu" (Qs. 47: 38).

Masing-masing kita punya pengalaman pribadi dalam da'wah ini. Ada yang sejak 20 tahun terakhir dalam kesibukan yang tinggi, tidak pernah terganggu oleh kunjungan yang berbenturan dengan jadwal da'wah atau oleh urusan yang merugikan da'wah. Mengapa ? Karena sejak awal yang bersangkutan telah tegar dalam mengutamakan kepentingan da'wah dan menepiskan kepentingan lainnya. Ini jauh dari pikiran nekad yang membuat seorang melarikan diri dari tanggungjawab keluarga.

Ada seorang ikhwah, Dia bercerita, ketika menikah langsung berpisah dari kedua orang tua masing-masing, untuk belajar hidup mandiri atau alasan lain, seperti mencari suasana yang kondusif bagi pemeliharaan iman menurut persepsi mereka waktu itu. Mereka mengontrak rumah petak sederhana. "Begitu harus berangkat (berdakwah-red) mendung menggantung di wajah pengantinku tercinta", tuturnya. Dia tidak keluar melepas sang suami tetapi menangis sedih dan bingung, seakan doktrin da'wah telah mengelupas. Kala itu jarang da'i dan murabbi yang pulang malam apalagi petang hari, karena mereka biasa pulang pagi hari. Perangpun mulai berkecamuk dihati, seperti Juraij sang abid yang kebingungan karena kekhususan ibadah (sunnah) nya terusik panggilan ibu. "Ummi au shalati : Ibuku atau shalatku?" Sekarang yang membingungkan justru "Zauji au da'wati" : Isteriku atau da'wahku ?".

Dia mulai gundah, kalau berangkat istri cemberut, padahal sudah tahu nikah dengannya risikonya tidak dapat pulang malam tapi biasanya pulang pagi, menurut bahasa Indonesia kontemporer untuk jam diatas 24.00. Dia katakan pada istrinya : "Kita ini dipertemukan oleh Allah dan kita menemukan cinta dalam da'wah. Apa pantas sesudah da'wah mempertemukan kita lalu kita meninggalkan da'wah. Saya cinta kamu dan kamu cinta saya tapi kita pun cinta Allah." Dia pergi menerobos segala hambatan dan pulang masih menemukan sang permaisuri dengan wajah masih mendung, namun membaik setelah beberapa hari.

Beberapa tahun kemudian setelah beranak tiga atau empat, saat kelesuan menerpanya, justru istri dan anak-anaknyalah yang mengingatkan, mengapa tidak berangkat dan tetap tinggal dirumah? Sekarang ini keluarga da'wah tersebut sudah menikmati berkah da'wah.

Lain lagi kisah sepasang suami istri yang juga dari masyarakat da'wah. Kisahnya mirip, penyikapannya yang berbeda. Pengantinnya tidak siap ditinggalkan untuk da'wah. Perang bathin terjadi dan malam itu ia absent dalam pertemuan rutin. Dilakukan muhasabah terhadapnya sampai menangis-menangis, ia sudah kalah oleh penyakit "syaghalatna amwaluna waahluna": "kami telah dilalaikan oleh harta dan keluarga" (QS. 48:11).

Ia berjanji pada dirinya : "Meskipun terjadi hujan, petir dan gempa saya harus hadir dalam tugas-tugas da'wah". Pada giliran berangkat keesokan harinya ada ketukan kecil dipintu, ternyata mertua datang. "Wah ia yang sudah memberikan putrinya kepadaku, bagaimana mungkin kutinggalkan?". Maka ia pun absen lagi dan di muhasabah lagi sampai menangis-nangis lagi. Saat tugas da'wah besok apapun yang terjadi, mau hujan, badai, mertua datang dll pokoknya saya harus datang. Dan begitu pula ketika harus berangkat ternyata ujian dan cobaan dating kembali dan iapun tak hadir lagi dalam tugas-tugas dakwah.

Sampai hari ini pun saya melihat jenis akh tersebut belum memiliki komitmen dan disiplin yang baik. Tidak pernah merasakan memiliki kelezatan duduk cukup lama dalam forum da'wah, yang penuh berkah. Sebenarnya adakah pertemuan-pertemuan yang lebih lezat selain pertemuan-pertemuan yang dihadiri oleh ikhwah berwajah jernih berhati ikhlas ? Saya tak tahu apakah mereka menemukan sesuatu yang lain, "in lam takun bihim falan takuna bighoirihim".

DI TITIK LEMAH UJIAN DATANG

Akhirnya dari beberapa kisah ini saya temukan jawabannya dalam satu simpul. Simpul ini ada dalam kajian tematik ayat QS Al-A'raf Ayat 163:

"Tanyakan pada mereka tentang negeri di tepi pantai, ketika mereka melampaui batas aturan Allah di (tentang) hari Sabtu, ketika ikan-ikan buruan mereka datang melimpah-limpah pada Sabtu dan di hari mereka tidak ber-sabtu ikan-ikan itu tiada datang. Demikianlah kami uji mereka karena kefasikan mereka".

Secara langsung tema ayat tentang sikap dan kewajiban amar ma'ruf nahyi munkar. Tetapi ada nuansa lain yang menambah kekayaan wawasan kita. Ini terkait dengan ujian. Waktu ujian itu tidak pernah lebih panjang daripada waktu hari belajar, tetapi banyak orang tak sabar menghadapi ujian, seakan sepanjang hari hanya ujian dan sedikit hari untuk belajar. Ujian kesabaran, keikhlasan, keteguhan dalam berda'wah lebih sedikit waktunya dibanding berbagai kenikmatan hidup yang kita rasakan.

Kalau ada sekolah yang waktu ujiannya lebih banyak dari hari belajarnya, maka sekolah tersebut dianggap sekolah gila. Selebih dari ujian-ujian kesulitan, kenikmatan itu sendiri adalah ujian. Bahkan, alhamdulillah rata-rata kader da'wah sekarang secara ekonomi semakin lebih baik. Ini tidak menafikan (sedikit) mereka yang roda ekonominya sedang dibawah.
Seorang Ustadz, ketika selesai menamatkan pendidikannya di Madinah, mengajak rekannya untuk mulai aktif berda'wah. Diajak menolak, dengan alasan ingin kaya dulu, karena orang kaya suaranya didengar orang dan kalau berda'wah, da'wahnya diterima. Beberapa tahun kemudian mereka bertemu. "Ternyata kayanya kaya begitu saja", ujar Ustadz tersebut.
Ternyata kita temukan kuncinya, "Demikianlah kami uji mereka karena sebab kefasikan mereka". Nampaknya Allah hanya menguji kita mulai pada titik yang paling lemah. Mereka malas karena pada hari Sabtu yang seharusnya dipakai ibadah justru ikan datang, pada hari Jum'at jam 11.50 datang pelanggan ke toko. Pada saat-saat jam da'wah datang orang menyibukkan mereka dengan berbagai cara.

Tapi kalau mereka bisa melewatinya dengan azam yang kuat, akan seperti kapal pemecah es. Bila diam salju itu tak akan menyingkir, tetapi ketika kapal itu maju, sang salju membiarkannya berlalu. Kita harus menerobos segala hal yang pahit seperti anak kecil yang belajar puasa, mau minum tahan dulu sampai maghrib. Kelezatan, kesenangan dan kepuasan yang tiada tara, karena sudah berhasil melewati ujian dan cobaan sepanjang hari.
Karena itu mari melihat dimana titik lemah kita. Yang lemah dalam berukhuwah, yang gerah dan segera ingin pergi meninggalkan kewajiban liqa', syuro atau jaulah. Bila mereka bersabar melawan rasa gerah itu, pertarungan mungkin hanya satu dua kali, sesudah itu tinggal hari-hari kenikmatan yang luar biasa yang tak tergantikan.

Bahkan orang-orang salih dimasa dahulu mengatakan: "Seandainya para raja dan anak-anak raja mengetahui kelezatan yang kita rasakan dalam dzikir dan majlis ilmu, niscaya mereka akan merampasnya dan memerangi kita dengan pedang". Sayang hal ini tidak bisa dirampas, melainkan diikuti, dihayati dan diperjuangkan. Berda'wah adalah nikmat, berukhuwah adalah nikmat, saling menopang dan memecahkan problematika da'wah bersama ikhwah adalah nikmat, andai saja bisa dikhayalkan oleh mereka menelantarkan modal usia yang ALLAH berikan dalam kemilau dunia yang menipu dan impian yang tak kunjung putus.

Ayat ini mengajarkan kita, ujian datang di titik lemah. Siapa yang lemah di bidang lawan jenis, seks dan segala yang sensual tidak diuji di bidang keuangan, kecuali ia juga lemah disitu. Yang lemah dibidang keuangan, jangan berani-berani memegang amanah keuangan kalau kamu lemah di uang hati-hati dengan uang. Yang lemah dalam gengsi, hobi popularitas, riya' mungkin -dimasa ujian- akan menemukan orang yang terkesan tidak menghormatinya. Yang lidahnya tajam dan berbisa mungkin diuji dengan jebakan-jebakan berkomentar sebelum tabayun (klarifikasi).Yang lemah dalam kejujuran mungkin selalu terjebak perkara yang membuat dia hanya 'selamat' dengan berdusta lagi. Dan itu arti pembesaran bencana.

Kalau saja Abdullah bin Ubay bin Salul, nominator pemimpin Madinah (dahulu Yatsrib) ikhlas menerima Islam sepenuh hati dan realistis bahwa dia tidak sekaliber Rasulullah SAW, niscaya tidak semalang itu nasibnya. Bukankah tokoh-tokoh Madinah makin tinggi dan terhormat, dunia dan akhirat dengan meletakkan diri mereka dibawah kepemimpinan Rasulullah SAW ? Ternyata banyak orang yang bukan hanya bakhil dengan harta yang ALLAH berikan, tetapi juga bakhil dengan ilmu, waktu, gagasan dan kesehatan yang seluruhnya akan menjadi beban tanggungjawab dan penyesalan.

SENI MEMBUAT ALASAN

Perlu kehati-hatian -sesudah syukur- karena kita hidup di masyarakat Da'wah dengan tingkat husnuzzhan yang sangat tinggi. Mereka yang cerdas tidak akan membodohi diri mereka sendiri dengan percaya kepada sangkaan baik orang kepada dirinya, sementara sang diri sangat fahambahwa ia tak berhak atas kemuliaan itu.

Gemetar tubuh Abu Bakar RA bila disanjung. "Ya ALLAH, jadikan daku lebih baik dari yang mereka sangka, jangan hukum daku lantaran ucapan mereka dan ampuni daku karena ketidaktahuan mereka", demikian ujarnya lirih. Dimana posisi kita dari kebajikan Abu Bakr Shiddiq RA ? "Alangkah bodoh kamu, percaya kepada sangka baik orang kepadamu, padahal engkau tahu betapa diri kamu jauh dari kebaikan itu", demikian kecaman Syaikh Harits Almuhasibi dan Ibnu Athai'Llah.

Diantara nikmat ALLAH ialah sitr (penutup) yang ALLAH berikan para hamba-Nya, sehingga aibnya tak dilihat orang. Namun pelamun selalu mengkhayal tanpa mau merubah diri. Demikian mereka yang memanfaatkan lapang hati komunitas da'wah tumbuh dan menjadi tua sebagai seniman maaf, "Afwan ya Akhi".

Tetapi ALLAH-lah Yang Memberi Mereka Karunia Besar

Kelengkapan Amal Jama'i tempat kita 'menyumbangkan' karya kecil kita, memberikan arti bagi eksistensi ini. Kebersamaan ini telah melahirkan kebesaran bersama. Jangan kecilkan makna kesertaan amal jama'i kita, tanpa harus mengklaim telah berjasa kepada Islam dan da'wah.

"Mereka membangkit-bangkitkan (jasa) keislaman mereka kepadamu. Katakan : 'Janganlah bangkit-bangkitkan keislamanmu (sebagai sumbangan bagi kekuatan Islam, (sebaliknya hayatilah) bahwa ALLAH telah memberi kamu karunia besar dengan membimbing kamu ke arah Iman, jika kamu memang jujur" (Qs. 49;17).

ALLAH telah menggiring kita kepada keimanan dan da'wah. Ini adalah karunia besar. Sebaliknya, mereka yang merasa telah berjasa, lalu -karena ketidakpuasan yang lahir dari konsekuensi bergaul dengan manusia yang tidak maksum dan sempurna- menunggu musibah dan kegagalan, untuk kemudian mengatakan : "Nah, rasain !" Sepantasnya bayangkan, bagaimana rasanya bila saya tidak bersama kafilah kebahagiaan ini?.

Saling mendo'akan sesama ikhwah telah menjadi ciri kemuliaan pribadi mereka, terlebih doa dari jauh. Selain ikhlas dan cinta tak nampak, motivasi lain bagi saudara yang berdoa itu, ALLAH akan mengabulkannya dan malaikat akan mengamininya, seraya berkata : "Untukmu pun hak seperti itu", seperti pesan Rasulullah SAW. Cukuplah kemuliaan ukhuwah dan jamaah bahwa para nabi dan syuhada iri kepada mereka yang saling mencintai, bukan didasari hubungan kekerabatan, semata-mata iman dan cinta fi'Llah.

Ya ALLAH, kami memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu dan cinta kepada segala yang akan mendekatkan kami kepada cinta-Mu.

Rabu, 24 November 2010

Bertahan karena Didekap Ukhuwah

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assalamu'alaikum Wr Wb,

Seseorang pernah berujar, jika keimanan membuatmu bergerak, maka ukhuwah yang membuatmu bertahan. Sebuah quote yang membuatku merenung beberapa saat, membuat pikiranku menerawang ke beberapa tahun silam. Tiba-tiba ingatanku kembali menghadirkan saudara-saudariku seperjuangan dulu, para ikhwah militan, mereka yang berada di garda terdepan dalam perjuangan. Yaa.. mereka... orang-orang yang telah bergerak demikian gesit disaat aku masih merangkak dan belajar berdiri, mereka yang telah berlari disaat aku masih tertatih, mereka yang jauh lebih awal menapaki jalan ini. Kini, ku hadirkan kembali mereka dalam memoriku, beberapa kini sudah terbang lebih tinggi, melesat dalam pergerakan dakwah yang semakin dinamis, mereka lah yang istiqamah... Lalu sebagian lagi kini entah ada dimana, adakah dunia telah mengalihkan idealismenya? Begitu murahkah surga baginya hingga ia rela menukarkan dengan kerajaan dunia? Dunia yang begitu menyibukkan hingga waktumu tak lagi tersisa untuk memikirkan tentang dakwah? 

Ahh,, tidak, aku tahu, aku tahu, kalian yang berpaling dari jalan ini dan memilih jalan yang lain. Jalan itu terlihat lebih mulus, lebih nyaman, lebih menyenangkan bukan? Apalagi di sana kamu menemukan saudara-saudara baru yang mau mendengarkan keluh kesahmu, di sana kamu menemukan saudara-saudara yang bersedia ada untukmu setiap saat, di sana kamu menemukan saudara-saudara yang lebih memahamimu, betul kan? Sedangkan kami di sini, saudara-saudaramu di jalan ini, terlalu sibuk dengan tumpukkan amanah, terlalu sibuk dengan jadawal syuro, terlalu sibuk dengan agenda-agenda, hingga kami lupa sekedar untuk menanyakan kabarmu,, sekedar untuk menyapamu, apalagi untuk bisa mendengarkan isi hatimu... Aahhhh,, aku tahu ini semua kesalahan kami, padahal dalam arkanul baiah termaktum kata 'ukhuwah', namun ternyata kami masih gagal menunaikannya terhadap saudara seperjuangan kami sendiri. Hingga kini, kalian pergi mencari saudara-saudara lain yang bisa memenuhi hak ukhuwahnya... 

Benarlah jika dikatakan ukhuwah mampu membuat seseorang bertahan, tanpa ukhuwah di saat paling penat, di saat futur melanda siapa yang akan mengingatkanmu? siapa yang bisa merangkulmu? 

Sebuah tamparan keras untukku, ternyata begitu banyak hak-hak saudariku yang belum mampu ku tunaikan.. Adakah kepergiannya dari jalan ini adalah karena andil kita? Dia yang yang penat dengan amanah yang begitu menumpuk dan kita yang masih bisa tidur berjam-jam? Dia yang terlalu lelah dan kita yang tak mau peduli, hingga ia pun berlari pergi....
Atau mungkin kita yang membiarkannya menjadi pengangguran dakwah hingga dia punya banyak kesempatan untuk lalai hingga futur dan tak ingin kembali lagi?

"Maukah kalian aku tunjukkan akhlak yang paling mulia di dunia dan akhirat? Memberi maaf orang yang mendzolimi, memberi orang yang menghalangimu dan menyambung silaturrahim orang yang memutuskanmu." (HR. Baihaqi)

"Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih lebih besar pahalanya daripada shalat dan shaum?" Sahabat menjawab, " Tentu saja!' Rasulullah pun kemudian menjelaskan, " engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan ukhuwah di antara mereka, (semua itu) adalah amal yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan." (HR. Bukhori-Muslim)

Dari hadits di atas dapat direnungkan bahwa betapa besar nilai sebuah jalinan persaudaraan. Karena itu, memperkokoh pilar-pilar ukhuwah islamiyah merupakan tugas penting bagi kita.

Agar ruh ukhuwah tetap kokoh, rahasianya terletak pada sejauhmana kita mampu bersungguh-sungguh menata kesadaran untuk memiliki kalbu yang bening bersih dan selamat. 

Sekarang, mari tanyakan kepada diri sendiri, adakah kita saat ini tengah merasa tidak enak hati terhadap adik, kakak, atau bahkan ayah dan ibu sendiri? Adakah saat ini kita masih menyimpan kesal kepada teman? Adakah saat ini kita masih menyimpan rasa ghill terhadap saudara seiman sesama ikhwah?

Kemuliaan akhlak tidak akan pernah berpadu dengan hati yang penuh dengki, iri, ujub, riya, dan takabbur. Di dalam qalbu yang kusam dan busuk inilah justru tersimpan benih-benih tafarruq (perpecahan) yang mengejawantahkan dalam aneka bentuk permusuhan dan kebencian terhadap sesama muslim.

Nyatanya, kekuatan ukhuwah hanya bisa dibangkitkan dengan kemuliaan akhlak. Oleh karena itu, kita amat merindukan pribadi-pribadi yang menorehkan keluhuran akhlak.

Tatapan matanya adalah tatapan bijak bestari sehingga siapa pun niscaya akan merasakan kesejukan dan ketentraman. Wajahnya adalah cahaya cemerlang yang sedap dipandang lagi mengesankan karena menyemburatkan kejujuran itikad. 

Senyumnya tak pernah lekang menghias bibirnya  adalah sedekah yang jauh lebih mahal nilainya daripada intan mutiara. 

Tak akan pernah terucap dari lisannya, kecuali untaikan kata-kata yang penuh hikmah, menyejukkan, membangkitkan keinsyafan, dan meringankan beban derita siapapun yang mendengarkannya.

Jabat tangannya yang hangat adalah jabat tangan yang mempertautkan seerat-eratnya dua hati dan dua jiwa yang tiada terlepas, kecuali diawali dan diakhiri dengan ucapan salam. Kedua tangannya teramat mudah terulur bagi siapa pun yang membutuhkannya. Bimbingan kedua tangannya selalu bermuara di majelis-majelis yang diberkahi Allah.

Memiliki qalbu yang bersih dan selamat agar kita mampu mengevaluasi diri dengan sebaik-baiknya dan menatap jauh ke depan agar Islam benar-benar dapat termanifestasikan menjadi Rahmatan Lil 'aalamiin dan umat pemeluknay benar-benar menjadi "sebaik-baik umat" yang diturunkan di tengah-tengah manusia. Wallhu a'lam



Bogor, 25 November 2010

11:11 AM

-Bunga Karang-

Kamis, 14 Oktober 2010

fiqih Dakwah: Persatuan Islam Suatu Kemestian

Rating:★★★★★
Category:Other
Oleh: Mochamad Bugi

dakwatuna.com – Ada ciri khas yang menonjol dari umat Islam. Mereka adalah umat tauhid dan satu kesatuan. Sejarah telah memperlihatkan dengan jelas bahwa umat Islam tidak akan dapat bersatu kecuali saat mereka berpegang teguh pada akidah tauhid yang benar. Sebesar penyimpangan mereka terhadap ajaran tauhid yang benar, sebesar itu pula yang membuat umat ini berpecah-belah.

Al-Qur’an telah menggambarkan ikatan tauhid dengan kesatuan pada beberapa ayat: “Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (Al-Anbiya’: 92). “Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (Al-Mu’minun: 52)

Al-Qur’an selalu mengingatkan umat Islam tentang hakikat mereka sebagai umat yang satu. “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali ‘Imran: 103)

Al-Qur’an melarang dengan keras perpecahan dan perbedaan. “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Ali ‘Imran: 105)

Allah mengingatkan orang-orang yang beriman tentang orang-orang kafir yang berpecah belah, dan anjuran agar tidak mengikuti mereka. “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (Al-An’aam: 159) “Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Ruum: 31-32)

Allah mengingatkan dan menegaskan tentang jalan orang-orang yang keluar dari agama Allah. “Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (Al-Maaidah: 91)

Tidak sedikit orang-orang — dari luar maupun dari dalam– yang menghalangi umat Islam untuk bersatu baik. Dari dalam, orang-orang munafik berusaha sekuat tenaga untuk memecah belah orang beriman dengan memunculkan permusuhan dan perpecahan. “Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang. orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah, ‘Kami tidak menghendaki selain kebaikan.’ Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).” (At-Taubah: 107)

“Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash: 4)

Begitulah syiar orang-orang kafir sejak dulu. Mereka dengan cara dan media yang dimiliki berusaha mengacaukan dan memecah belah umat Islam sebelum mencapai tujuan akhir mereka: menguasai orang-orang beriman.

Ukhuwah Islam

Melalui syariat, akhlaq, dan muamalah, Islam mengokohkan ikatan ukhuwah pemeluknya. Sehingga lima rukun Islam semuanya memiliki nuansa persatuan Islam dan ukhuwah imaniyah. Kaum muslimin di manapun ia berada pasti akan tunduk sepenuhnya kepada syariat dan ajaran Tuhan Yang Satu. “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisaa’: 65)

Umat Islam juga tunduk kepada ajaran kesatuan politik dan ketaatan kepada Tuhan Yang Satu, Rasul teladan yang satu, dan pemimpin mereka yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisaa’: 59)

Islam mengajarkan semua umatnya untuk bangkit melawan musuh-musuhnya, sehingga jihad menjadi fardu ‘ain bila negeri Islam diserang musuh. “Dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah: 36). “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” (Al-Baqarah: 193)

Menolong orang-orang yang tertindas adalah kewajiban umat Islam yang mampu bertindak dan menolong mereka. “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau.” (An-Nisaa’: 75). “Mereka berkata, ‘Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya.’ Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” (Al-Munaafiquun: 8)

Karena itu, Islam meletakkan kaidah-kaidah akhlak dan iman untuk menjaga kemurnian dan keutuhan ukhuwah Islam. Islam mengajarkan umatnya untuk tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa, serta meninggalkan kerjasama dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam kasih sayang mereka dan kelembutan mereka seperti tubuh yang satu. Apabila bagian tubuh yang satu mengeluh kesakitan, maka seluruh tubuhnya merasakan demam dan tidak bisa tidur.”

Islam memerintahkan orang beriman untuk mendamaikan dua orang saudaranya yang sedang sengketa. “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat: 10)

Islam juga menetapkan beberapa kewajiban seorang muslim atas muslim lainnya. Rasulullah saw. bersabda, “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Janganlah seorang muslim menzhalimi saudaranya dan janganlah seorang muslim membiarkan, tidak menolong saudaranya. Barangsiapa yang membantu menuntaskan keperluan saudaranya, maka Allah akan membantu keperluannya. Barang siapa yang melapangkan kesempitan saudaranya, maka Allah akan melapangkan satu kesulitannya nanti hari kiamat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di hari kiamat.”

Rasulullah juga bersabda, “Hak seorang muslim kepada muslim lainnya ada lima: menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan orang bersin.”

Untuk tujuan ukhuwah Islam, Islam melarang segala yang dapat merusak ukhuwah. Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian saling hasad dan jangan pula saling mencari-cari kesalahan serta janganlah kalian saling membenci dan saling menjauhi. Janganlah seorang muslim membeli barang yang telah ditawar saudaranya. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara. Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk hanya lantaran ia mengejek saudaranya sesama muslim. Seorang muslim atas muslim lainnya itu terpelihara nyawanya, hartanya, dan kehormatannya.”

Jika terlihat di antara dua orang muslim saling berbuat zhalim, maka umat Islam dituntut untuk mengembalikan haknya dan mencegahnya sesuai dengan syariat Islam yang mengajarkan amar ma’ruf nahi munkar. “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (Ali ‘Imran: 104)

Menjalankan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar merupakan rahasia keutamaan umat ini. “Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik..” (Ali ‘Imran: 110)

Ukhuwah Syarat Mendapat Kekuasaan

Sesungguhnya merealisasikan ukhuwah merupakan syarat tercapainya kemenangan Islam. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaaff: 4)

Jika ukhuwah sudah tidak ada dan iman sudah lemah, maka akan datang kekalahan. “Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan seizin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu; dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman.” (Ali ‘Imran: 152)

Belajar Dari Sejarah

Ketika dahulu umat Islam adalah umat yang satu, Islam memimpin dunia dengan keadilan selama sekian abad. Jika kita teliti masa-masa kemenangan Islam, maka akan kita temukan bahwa semuanya itu tergantung kepada terealisirnya kesatuan umat. Kemenangan dalam peperangan di masa Rasulullah saw, maupun masa-masa penaklukan pasukan Islam ke hampir penjuru dunia, adalah buah dari kuatnya persatuan umat. Namun ketika ukhuwah melemah, kita dapat lihat reaksi pasukan Islam menghadapi serangan musuh-musuh Islam. Misalnya ketika Palestina dan Mesjid Al-Aqsha jatuh ke tangan pasukan Salib atau saat Baghdad dikuasai pasukan Tartar. Ketika kesatuan dan persatuan Islam lemah, lemah pula kekuatan umat Islam di hadapan musuh-musuhnya.

Musuh-musuh Islam telah cermat mengamati sumber kekuatan umat Islam Karena itu fokus sasaran serangan mereka kepada umat Islam adalah melemahkan ikatan ukhuwah pada diri umat Islam dengan berbagai sarana yang mereka miliki. Dan kesatuan politik umat Islam telah tercerabut bersamaan dengan jatuhnya Kekhalifahan Utsmani di Turki. Sejak itu negara-negara Barat menjajah dan menjarah negeri-negeri Islam.

Jadi, persatuan Islam bukanlah teori. Ini adalah dasar wawasan pemahaman Islam. Pandangan kita tentang Islam tidaklah benar jika tidak memahami konsep ukhuwah dalam Islam. Jika kita ingin kondisi umat Islam berubah menjadi baik, merealisasikan ukhuwah adalah tuntutan yang tidak bisa tidak mesti diaplikasikan oleh seluruh elemen umat Islam.

Tidak ada senjata yang ampuh untuk menghadapi kepungan kekuatan musuh, kecuali kesolidan umat Islam. Persatuan umat adalah sebuah jawaban.

Kamis, 22 Juli 2010

Menyemai Cinta dalam Manisnya Ukhuwah

Dear my dearest sista..,,

ukhti fillah, saatku goreskan tinta ini ada jutaan kata yang ingin kusampaikan namun tak mampu ku rangkum dalam barisan kata dan kalimat. Ketahuilah, apa yang mampu ku tulis hanya bagian terkecil dari ungkapan syukurku atas hadirnya dirimu dalam lembaran hidupku.., arti hadirmu tak mampu digambarkan dalam kata-kata, terlalu indah, terlalu manis, terlalu berharga...

ukhti fillah, saat sendiri kurasakan diri ini bagai sepotong puzzle, bersamamu bagai menemukan potongan puzzle lainnya dalam bentuk yang berbeda namun dapat saling melengkapi dan mengisi. Ya, akulah sepotong puzzle itu, tak sempurna saat sendiri, namun hadirmu sempurnakan hidupku.

ukhti fillah, ribuan langkah telah kita arungi bersama, dalam hitungan tahun kita dipersatukan dalam sebuah lingkaran terkecil dari sebuah lingkaran ukhuwah yang telah melewati sekat-sekat ruang dan waktu. Segala perbedaan sirna melebur dalam persaudaraan, dalam cinta, dalam ikatan hati yang kian kuat teriring doa rabithoh yang selalu kita lantunkan. Hanya syukur tiada bertepi pada Ilahi Robbi atas karunia persaudaraan ini. Keabadian cinta hanya ada saat cinta itu bersumber dari kecintaan kepada yang Maha Mencintai. Cinta ini lahir dan tumbuh dalam naungan cinta-Nya, dalam rangkulan kasih sayang-Nya, dalam rangka menyeru kepada-Nya, dalam jalan yang diridhoi-Nya...

Ya Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta padaMu,
telah berjumpa dalam taat padaMu,
telah bersatu dalam dakwah padaMu,
telah berpadu dalam membela syari’atMu.
Kukuhkanlah, ya Allah, ikatannya.
Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini dengan nur cahayaMu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepadaMu dan
keindahan bertawakkal kepadaMu.
Nyalakanlah hati kami dengan berma’rifat padaMu.
Matikanlah kami dalam syahid di jalanMu.
Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Ya Allah. Amin. Sampaikanlah kesejahteraan, ya Allah, pada junjungan kami, Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatnya dan limpahkanlah kepada mereka keselamatan.

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelajakan semua (kekayaan) yang berada dibumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana”. (QS. 8:63)

Kini, meski kita tak lagi duduk bersama dalam lingkaran kecil itu, tapi kecintaanku padamu, pada saudara-saudara seperjuangan, pada umat muslim telah melampaui lingkaran itu, kini ia telah terangkum dalam ukhuwah islamiyah yang tak dibatasi sekat-sekat wilayah, suku, dan bangsa.

Perjalanan yang kita lalui bersama begitu panjang, pahit manis, susah senang, berat ringan, tawa air mata tak ternilai sudah. Perjalanan yang telah mendewasakan kita. Perjalanan yang telah merubah hidup kita. Perjalanan yang telah mempersatukan hati-hati kita. Perjalanan yang telah dan akan terus kita tempuh hingga nafas terhenti.

Siapapun takkan pernah bisa bertahan / Melalui jalan dakwah ini
Mengarungi jalan perjuangan / Kecuali dengan kesabaran
Wahai ummat Islam bersatulah / Rapatkan barisan jalin ukhuwah
Luruskan niat satukan tekad / Kita sambut kemenangan

Dengan bekal iman maju kehadapan / Al Qur'an dan Sunnah jadi panduan
Sucikan diri ikhlaskan hati / Menggapai ridho Ilahi
Dengan persatuan galang kekuatan / Panji Islam kan menjulang
Tegak kebenaran hancur kebathilan / Gemakan takbir ALLAHU AKBAR!
(Notes: Dikutip dari lirik nasyid Senandung Persatuan-Izzatul Islam)

Ingatkah saat dulu kita begitu jahiliyah, hidup seolah di dunia saja, lalu hidayah itu menghampiri kita, menawarkan sebuah jual beli yang pasti menguntungkan,

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan balasan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu dan itulah kemenangan yang besar." (Q.S.At-Taubah:11)

Ingatkah akan perjanjian itu? tetapkan langkah kaki kami tetap di jalan-Mu ya Rabb, tetap menyeru agamamu ya Rabb,, buang segala ambisi pribadi  dan egosime, biarkan ia melebur untuk mencapai tujuan Islam yang tinggi dan mulia. Apabila kami mempunyai ambisi, maka ambisi kami adalah ingin melihat bendera Islam tegak dan berkibar.

Jalan ini tak mudah, tak pernah mudah, tak ditaburi bunga yang mewangi namun ditaburi duri-duri tajam yang siap melukai siapapun yang melewatinya,, tetap tegarlah di jalan ini, dalam suka, dalam duka, dalam susah, dalam senang, dalam sehat, dalam sakit, dalam kaya, dalam miskin, saat bersama maupun saat sendiri...

Jika kita tahu ini jalan perjuangan, maka perjuangan memiliki makna kesungguhan, keseriusan, pengorbanan. Tidak ada harapan yang bernuansa menerima di sini, kecuali berharap menerima balasan dari-Nya semata. Jalan ini, memang bukan jalan biasa, hanya ada MEMBERI dan MEMBERI!!! Memberi apa yang kita bisa beri, mengorbankan apa yang kita bisa korbankan. Bersyukurlah bila masih ada orang yang mau diberi oleh kita. Bersyukurlah bila kita masih diminta untuk memberi. Bersyukurlah bila kita diberi ruang untuk bisa berkorban lebih banyak, di jalan ini, jalan Allah swt...-Muh.Lili Nur Aulia-

"Taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian saling berbantah-bantahan sehingga kalian kalah dan kehilangan semangat..." (Q.S. Al-Anfaal: 46) "Berjamaahlah kalian, karena sesungguhnya setan akan menyertai orang yang sendiri, dan ia akan menjauhi orang yang berdua. Barangsiapa yang ingin masuk ke dalam taman surga hendaklah ia komitmen dengan jamaahnya." (H.R. Turmudzi).... "Berjamaah itu menimbulkan rahmah (kasih sayang), sedangkan berpecah-belah akan menyebabkan turunnya azab." (H.R. Ahmad) Ali r.a. berkata, "Noda yang ada pada jamaah lebih baik daripada kesucian yang ada pada satu orang."

terakhir,, sebuah kalimat yang merangkum segala rasa, uhibbukum fillah, mencintaimu karena Allah dan dengan penuh harap kelak kita akan dipertemukan dalam reuni akbar di jannah-Nya. aamiin...

Depok, 22 Juli 2010

--catatan flo--

Minggu, 13 Juni 2010

Teruntuk Dirimu yang Istimewa

Bismilllahirrohmaanirrohiim...,,

Ditemani tembok membisu dan awan nan mendung ingin kusampaikan untaian kata teruntuk dirimu yang istimewa,

Hari ini, dirimu semakin tua, kawan,, meski setiap detik usia hidup kita semakin berkurang dan kematian semakin dekat,,

Ingatkah, berapa banyak waktu yang telah kita tapaki bersama?
Ingatkah, berapa banyak tahun yang telah kita habiskan dalam perjalanan ini?
Ingatkah, berapa banyak cerita yang telah kita bagi di setiap perjumpaan?
Ingatkah, berapa banyak kata yang terucap, berapa banyak janji terlontar, berapa banyak canda mewarnai, berapa banyak air mata menghampiri, berapa banyak keringat yang mengucur, berapa banyak hina dan cela terungkap, berapa banyak mimpi terukir?
Ingatkah, apa saja yang telah kita berikan untuk Dien ini? sebandingkah dengan nikmatNYA yang terus tercurah? tentu tidak, yaaa, terlalu kecil amal kita, bahkan lebih kecil dari debu yang tertiup angin dan hilang tanpa bekas, belum lagi semakin lenyap karena angkuh diri dan lalai yang bertubi..., hanya istighfar dan istighfar yang menjadi lantunan terindah di akhir malam, ditemani rasa malu atas diri yang hina, Yaa Rabb...

Begitu banyak masa yang tlah kita lalui, begitu banyak proses yang tlah kita jalani, begitu banyak perubahan yang sulit kita maknai,, mereka yang pergi, lalu mengapa kita masih di sini? bertahan? Akankah sampai hembusan nafas terakhir?

Hingga detik ini, kita sama-sama masih di sini, masih melangkah dalam alunan simfoni yang sama, masih menapaki jalan yang sama meski tak selalu seirama,,

Seringkali keluh menerpa, gelisah menggeliat, bingung menyergap, namun kita masih bertahan karena sebuah keyakinan akan sebuah masa depan, kamu percaya bukan? bukankah itu sudah menjadi sebuah keniscayaan? Harusnya keraguan itu pupus sudah, musnah tak bersisa agar langkah kita semakin pasti, agar amal kita semakin nyata, agar kita bisa berbuat lebih banyak lagi..., dan lebih banyak lagi, tak apa lah rakus dalam beramal, daripada rakus dalam bermaksiat...,,

Melangkah bersamamu terasa indah, meski berbeda namun selaras bagai pelangi nan menawan,,, meski tak selalu senyum yang ku dapati bahkan lebih sering cemberut mewarnai ,, meski tak selalu kata-kata manis yang terlontar bahkan lebih sering omelan, tapi semua terasa menyentuh hati, kadang menghangatkan, kadang juga mengademkan...

Sejuta mimpi telah kita ukir bersama, satu per satu mulai tampak berwujud nyata,, teruslah bejuang tuk taklukkan mimpi-mimpi kita itu, jangan pernah menyerah, namun yakinlah apapun hasilnya itulah yang terbaik untuk kita,,, syukur senantiasa warnai hari-hari indah kita...Meski dunia begitu menggiurkan, ingatkan selalu bahwa dunia bukanlah tujuan akhir kita, investasi akhirat adalah yang utama,, itulah hakikat bersaudara, untuk saling mengingatkan..

Kuharap kita terus bersama dalam balutan ukhuwah yang indah.. bila suatu saat ku terlena oleh dunia nan fana, tolong cubit aku dan buatku tersadar... bila suatu hari ku lalai, tolong tarik tanganku dan ceburkan aku dalam lautan amal yg tiada bertepi, agar aku tak punya waktu tuk berlalai-lalai lagi.. bila suatu saat aku bermaksiat, tolong "tampar" aku dengan keras agar tak pernah ku ulangi lagi tindakan bodoh itu...

Kelak, bila dirimu yang lalai, akupun tak kan diam, mulai dari belaian lembut, kata-kata halus, hingga sebuah "pukulan keras" bisa melayang.. Karena aku takkan rela kehilangan dirimu yang istimewa dalam perjalanan ini...

Cukup sudah ku tatap mereka yang berlalu dan pergi, tanpa kata tanpa pesan tanpa sesal,,,
ku hanya ingin kita bersama bisa bertahan sampai akhir hingga kita dipertemukan kembali dalam reuni akbar di jannah-NYA, aamiin yaa Rabb...

Ribuan tanya telah terjawab, kini bergeraklah bersama derasnya air laut saat pasang yang bergerak atas perintah Rabb-nya, agar hidup kita tak sia-sia..,

Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal ra. Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:
“Tidaklah kedua kaki manusia akan tergelincir kelak di hari kiamat, sampai ditanyakan empat aspek; tentang umurnya, untuk apa sajakah dia dihabiskannya; tentang masa mudanya, dalam apa sajakah masa muda itu dihancurkan; tentang hartanya, dari mana dia didapat dan dibelanjakan untuk apa; dan tentang ilmunya, apa yang telah diamalkan dengannya” (HR. Al Bazzar dan Thabrani dengan sanad yang sahih dan naskah ini adalah miliknya).

Untuk dirimu yang istimewa, barakallah fii umrik, usia bukanlah bilangan waktu, tapi ia adalah bilangan amal dan prestasi

Depok, 14 Juni 2010
-flo-

Minggu, 21 Februari 2010

Tolong Ingatkan Saya

Tolong ingatkan saya
andai saya Melupakan Tuhan
dalam kelapangan dan kesibukan
dalam kesenangan dan kesusahan

tolong ingatkan saya
jangan jadi anak durhaka
melupakan ayah dan ibu, melukai perasaannya


tolong ingatkan saya
supaya ingat pesan guru
bukan sekedar peringatan
tapi pesan yang berkelanjutan

tolong ingatkan saya
Tuk mendengar dan membaca Alquran
Ketika diradio banyak hiburan
ketika ditv penuh kehingarbingaran

tolong ingatkan saya
di mana islamku sebenarnya
jika aurat dilupakan dan
maksiat ditonjolkan.

tolong ingatkan saya
jadilah sahabat yang baik
yang slalu memberi peringatan
dan senantiasa menerima teguran

tolong ingatkan saya
kalau pekerjaan dan dunia
bukanlah yang utama
tapi akhirat kelak telah menanti disana.


tolong ingatkan saya
hidup ini satu perjalanan
ambilan mutiara dalam perjalanan
smoga di sana menjadi bekal.

tolong ingatkan saya
diri ini milik Yang Kuasa
kepadaNya jiwa diserahkan
segala-galanya Allah lah tumpuan

Senin, 21 Desember 2009

Kangen gak?

Kamu kangen ga berkumpul sama saudara/i ikhwahmu?
Kamu kangen ga sama agenda ngaji pekanan?
Kamu kangen ga adu argumen ma saudara/i mu dlm forum pekanan qt?
Kamu kangen ga ma qodoyya-qodoyya qt yg kadang bertabur senyum2 nakal atau bahkan berakhir dgn lautan air mata (lebay ini mah)?
Kamu kangen ga sama paksaan2 sang guru tuk menerima amanah baru?
Kamu kangen ga sama perdebatan2 seru qt tiap turun ta'limat?Bukannya sami'na wa a'tho'na tp malah sami'na wa ashoina.,emang bandel ya kita.. Tapi itulah proses tarbiyah,diawali bnyk pertanyaan,mencari kebenaran dan pemahaman yg mendalam,bukan sekedar taklid buta,bukan??
Kamu kangen ga saat kita sibuk mensurvei tempat untuk acara An-Nabaa,IT,training mentor,outbond,sanlat pelajar,team building forkom,team building dkm,rihlah,daurah,dsb dsb...(duh,dasar tukang survei,hehe)?
Kamu kangen ga saat waktu kita begitu habis tersita untuk agenda-agenda dakwah yg bejibun,hingga tak ada wkt tuk sekedar meluruskan punggung (lebay lagi ya?hehe)?
Kamu kangen ga menghadiri tatsqif dan bertanya mendalam kpd sang ustadz?
Kamu kangen ga duduk-duduk bareng tuk menguatkan ruhiyah dalam majelis jalasah ruhiyah?
Kamu kangen ga berbondon2 ke monas tuk melancarkan AKSI mendukung PALESTINA tercinta?Meski lelah,meski peluh,meski panas,tp tetep dalam semangat ukhuwah...
Kamu kangen gak saat qt mabit bareng?
Kamu kangen gak saat aa/teteh kita mulai memaksa kita buat membina dan kita slalu berusaha mengelak?Alesannya?Ga PD ah teh/a,ilmu saya ga cukup,duh masa saya jd mentor/mr,saya kan begajulan,apa kbr muttarobbi saya?kasian mreka,xixixi...,dan segudang alasan lainnya...Akhirnya?Kita sama2 ga berdaya ngelawan rayuan maut aa/teteh kita...Dimulai dari,isi mentoring smp ini yah,
oia,sma itu jg butuh mentor,bantu ngisi yah...Sore2 jg ada ta'lim di mesjid itu,gantiin teteh ngisi yah...Beuh...
Trus,mulailah kita ikut daurah murobbi,gak lama kelompok binaan pun diserahkan,hiks hiks...,amanah terberat :(
Trus,kita mulai berdalih,kita liqo seminggu cuman sekali,tp disuruh megang bbrp kelompok,ga adil ah,kalo ngisi seminggu 2x qt jg diisi seminggu 2x dung,biar ga tekor.Hahaha.,,dulu kita manja bgt yah..,ngandelin orang lain utk maju...Makanya kuatin dung tarbiyah dzatiyahnya!Buku segitu bnyknya dibaca dung!Ga usah manja,hehehe...
Kamu kangen ga dateng k skolah tercinta kita?Ketemu adik2 kita yang lucu2,memantau perkembangan mereka,mendampingi mereka tumbuh jadi pendobrak peradaban...Remember!Kita sedang membangun peradaban...,membina generasi jihadiy,ingatkah??
Kamu kangen ga dengan diskusi hangat kita tentang rencana2 gila dan mimpi2 besar kita?
Kamu kangen ga sih menghabiskan waktu di al ghifari,dr syuro ke syuro (at least,i hate syuro,so boring,hehe..,but i still do it)...
Kamu kangen ga dengan agenda pekanan kita yg suka berubah2 jdwlnya,jarkom yg putus,tapi tak menghambat langkah kita tuk tetap hadir?
Kamu kangen ga?
Kamu kangen ga?
Kamu kangen ga?
Kamu kangen ga sih dengan kehidupan tarbiyah yg pernah kita jalani bersama?
Dulu kan kamu yang ngajak aku,
dulu kan kamu yg slalu menyemangatiku,
dulu kan kamu yg slalu nasehatin aku walau dgn cara becanda2,
dulu kan kamu, sang assabiqunal awwalun,
kamu yg dengan kesholihan pribadi,membawa kesholihan kelompok,di saat aku msh hidup dalam kejahiliyahan...
Sekarang kamu kemana saudara/i ku??
Kangenkah kamu??
Kapan kamu akan kembali??
Jika 'cinta' tlah melemahkan langkahmu,ketahuilah kecintaan Allah jauh lebih berharga tuk diperjuangkan..
Jika ketidaksesuaian idealisme tlah menjauhkanmu,tp jangan pernah menjauhkan dirimu dari Allah..
Jika keminiman perhatian para ikhwah tlah membuatmu mencari kelompok lain yg lbh perhatian,sungguh kasih sayang dan perhatian Allah tiada tergantikan...
Dan.,ku yakin,pengorbananmu selama ini adalah pengorbanan yang tulus, bukankah hanya ridho Allah lah yg kita tuju? Lalu mengapa kamu pergi??Mengapa tingkah polah manusia dan pikiran2 miring manusia lain melemahkan perjuanganmu?
Dan bekerjalah,maka Allah, RasulNYA,beserta orang2 beriman yang akan melihat pekerjaanmu itu (at taubah:105).
Pahlawan sejati bukanlah kolektor atribut duniawi,hanya keridhoan Allah lah yang dicari.
Jika kamu kangen,ketahuilah kami lebih rindu...Hadirmu slalu kami nantikan ;)
teruslah beramal dalam keadaan lapang maupun sempit...
22 desember 2009,ditemani hujan di sta.Pocin...I like rain :-)
-flo-

Selasa, 01 September 2009

Kapalmu memang indah tp menenggelamkan...

Kapal yg qt tumpangi memang berbeda,kapalku hanyalah kapal layar sederhana,dinahkodai seorang bijak yg amanah,diawaki mereka yg tawadhu dan qana'ah.Berbekal peta,kompas,dan sarana navigasi yg lengkap kami mengarungi samudra dgn tujuan yg pasti.Kekokohannya kerap kali diuji oleh ganasnya ombak dan kerasnya karang,tp keistiqamahan dan kesungguhan tuk mencapai tujuan perjalanan slalu menjadi kekuatan.
Kapalmu memang indah,kapal pesiar yg lengkap dgn smua fasilitas yg melenakan.Kamu tak perlu berjuang,hanya menikmati segala layanan yg tsedia.Segala kesenangan tersaji,ya begitulah.Tapi tahukan kamu kemana pesiarmu kan membawamu??Bahkan sang nahkodapun tak peduli,dy jg sibuk bersenang2 d kasur empuknya dtemani makanan lezat,lupa pd tgsnya.Pesiarmu berlayar tanpa tujuan tanpa arah tanpa navigator tanpa kompas tanpa peta...Hey,pesiarmu bs menabrak koral,batu karang yg besar.Kisah titanic cukup menggambarkan,bukan??
Kapalmu mulai tenggelam perlahan,sekoci2 diturunkan,selamatkan dirimu!!
Kamipun datang ingin membantu,mengajakmu melanjutkan perjalanan dgn kapal kami yg sederhana.Sekoci telah kuturunkan,pelampung telah kusiapkan,tak ingin kubiarkan engkau tenggelam lbh dalam...
Tapi ternyata kamu sangat menikmati pemandangan dasar laut nan indah,hingga kamu tak sadar tengah tenggelam,kamu tak sadar dirimu terancam bahaya.Pelampung yg kusodorkanpun kau tolak...,sekoci yg kusiapkanpun tak kau hiraukan...Baiklah,itulah pilihanmu...Kelak,jgn bilang aku tak pernah mencoba menyelamatkanmu...,aku sudah berusaha...Kamu yg slalu menolak dan sibuk dgn pikiranmu sendiri...Pdhl dulu kita berada d kapal yg sama bukan?Kamu blg mau menolong orang2 d kapal pesiar itu agar tdk tenggelam,tp knp kini justru kamu yg jd korban??Begitu melenakankah pesiarmu?!
Sudahlah,puluhan orang lain berteriak meminta tolong,lbh baik sekociku tuk menyelamatkan mreka yg ingin diselamatkan,pelampungku tuk mreka yg merasa butuh...Buat apa menghiraukan yg tak ingin dihiraukan...
Kapalku terus berlayar meninggalkan pesiarmu yg karam dan tenggelam,bersama mereka yg msh ingin menggapai tujuannya...Semakin jauh meninggalkanmu,air mataku pun tak tertahankan lg,menyakitkan hrs membiarkanmu..,kuharap kelak kamu bs berenang menggapai kapal kita lg..,pasti berat..,tp harapan kan slalu ada.Maaf ku harus melepasmu,ku tak rela ikut tenggelam,ku memilih melanjutkan perjalananku,kapal itu akan tetap berlayar tanpa kamu,ataupun tanpa aku.Tp kuingin selamat...Pintaku kelak kita bs berlayar bersama lagi...Kapal yg kuawaki memang sederhana,tapi menyelamatkan...

Jumat, 04 April 2008

aku (baca:kami) masih menunggu

Kemanakah dirimu mengembara?
begitu indah kah dunia hingga kami tak lagi menarik?
ataukah
di sana dirimu menderita dan terpenjara hingga tak bisa menemui kami lagi?

Kami di sini mengkhawatirkan mu
kami di sini selalu menunggu hadirmu
kami di sini selalu menanti kabar darimu
kami di sini tak kan pernah melupakanmu

kamu tetaplah bagian dari kami
tak kan ada yang berubah
karena kami masih menunggu....
selalu....

kami menunggumu
kami menantikanmu
kami merindukanmu

Kapanpun kamu ingin kembali
kami akan menerimamu dengan penuh kebahagiaan
tak akan ada yang berubah
kamu tetap jadi bagian dari kami

Dulu dirimu pernah berjanji menceritakan segalanya
semua beban yang menumpuk
semua masalah yang melanda
semuanya....

Tapi, kelak bila kau kembali ke sisi kami
aku takkan memaksamu bercerita semuanya
aku hanya akan mendekapmu bahagia....
aku hanya akan menunggumu hingga mau menceritakannya
tanpa paksaan
bahkan jika kamu tak mau menceritakannya, aku tak kan memaksa
aku hanya ingin kau kembali di sisi kami

kami menunggumu kembali di sini.....selalu....selalu.....
kamu tetap bagian dari kami
takkan ada yang berubah
percayalah.....
kami semua merindukanmu....

tidakkah kamu merindukan perjuangan yang indah ini???
aku yakin kamu pun merindukannya, iya kan???



Minggu, 30 Maret 2008

terima kasih smua....

Terima Kasih ya atas segalanya...atas cinta-Mu yang selalu melimpah..., deras tak terbendung...., terima kasih...., nikmat-Mu tiada tara, rasa syukurku tak kan pernah cukup tuk membalas segalanya...., terima kasih ya Allah....
Terima kasih atas limpahan rahmat-Mu...
atas keluarga yang selalu mencintai ku, yang selalu ada saat ku butuhkan, yang selalu mengerti kebutuhan ku...
Terima kasih ibu atas cinta mu yang tulus, selalu memberi tanpa menuntut balasan..., cinta yang selalu bisa membuat ku bangkit di saat jatuh, membuatku tersenyum di saat sempit, membuatku jadi manusia dewasa yang tau makna hidup, ia mengajariku segalanya...terima kasih ibu....
Terima kasih ayah atas curahan kasih sayang mu, atas pengorbanan mu, atas kesetiaan mu, terima kasih ayah, karena mu aku selalu bahagia, selalu ada untuk ku...Terima kasih ayah atas cintamu yang begitu besar mengalir, membuat hidupku semakin indah krn cinta kasihmu
Terima kasih adik-adik ku, ryan dan firman yang membuatku dewasa menghadapi kalian, yang selalu peduli walau sering membuatku naik darah, yang selalu ada penuh cinta walau sering berbeda pendapat, kalian tetap ku sayangi...
Terima kasih untuk sahabat-sahabat ku yang selalu menyayangi aku, membuat seluruh hati ku dipenuhi cinta..., selalu mau jadi tempat berbagi, mau mendengar segala cerita dan kisah hidupku, mendengar keluh kesah ku, dan pastinya selalu mau menceritakan semua nya, selalu mau berbagi senang dan sedih, selalu ada di sampingku....Percaya untuk menceritakan segalanya pada ku, makasih ya....kalian selalu punya tempat tersendiri di hatiku. Maaf kalo belakangan ini waktuku untukmu begitu
terbatas, tapi percayalah kalian segalanya dan selalu kusayang...
Terima kasih untuk saudara-saudari ku seperjuangan, yang dengan setia berjuang untuk satu cita-cita.....hanya mengharap ridho Allah semata, tak pernah mengeluh walau cobaan begitu berat, pengorbanan dan pengorbanan....., tak pernah mengeluh, kita selalu berjuang bersama, menangis bersama. Walau kadang terasa berat, namun saudara-saudariku selalu ada menyemangatiku untuk terus maju dan berjuang...., tanpa kalian aku akan mudah tergelincir...Kalian adalah energi, kekuatan, dan semangat ku....terima kasih...
Terima kasih untuk semua kepercayaan dan cinta kasih kalian.... sehingga hatiku selalu terisi oleh cinta, tak pernah kering dan gersang, selalu disirami derasnya  kasih sayang....tak pernah kekurangan dan tak pernah menjadi pengemis cinta....terima kasih...
Terima kasih untuk teman2 seperjuangan ku di bangku kuliah, para pejuang kemanusiaan dan lingkungan. Orang2 yang selalu rela berkorban demi kemajuan kesehatan bangsa dan penyelamatan lingkungan hidup...., idealisme tinggi, tapi juga menjadi sahabat yang selalu berbagi kisah dengan ku....terima kasih guys....ku sayang kalian.....,
Untuk "adik-adikku" di smp 11 dan sma 1, kalian adalah sumber inspirasi ku, tempat ku mencurahkan segala perhatian dan kasih sayang, layaknya adik kandung ku sendiri. Bahagia ku ketika kalian begitu percaya menceritakan segalanya pada ku, pertanda kalian percaya dan menerima ku sbg bagian dari diri kalian....aku sayang "adik-adikku", sangat.....Kalian adalah inspirasi ku....terima kasih....

Skali lagi, terima kasih untuk segala cinta yang tercurah, membuatku merasa semakin sempurna.....Terima kasih..., semua terasa begitu lengkap....Aku menyayangi semuanya....matahari yang terbit menghangatkan dunia, awan yang meneduhkan, hujan yang menyejukkan, dedaunan yang membuat mata segar, lautan yang sangat kucintai , burung-burung, ikan, sapi, kambing, semua ciptaanNya....semuanya.....semuanya....terutama orang-orang di sekitarku yang ku sayangi....

Terima kasih....Terima Kasih....Terima Kasih....Terima Kasih....


aku kangeeeeeeeen.....

mungkin dia tak pernah tahu
mungkin dia tak akan tahu
walau pernah ku ungkapkan
betapa ku merindukannya

rasa kangen yang amat sangat
menumpuk
hingga nyaris hampir meledak....huh....

aku kangen....
saat-saat kita bersama, berbagi, bercerita..., semua begitu lepas...,

aku kehilangan dia..., padahal dia begitu dekat
aku merindukannya..., padahal dia begitu dekat
aku ingin menjumpainya, tapi mengapa begitu sulit???

padahal dia begitu dekat, tapi kenapa sangat sulit untuk bertemu?

aku kangeeeennnn

kabar darinya slalu ku nanti...,
andai dia tau betapa bahagianya aku saat mendapat sms darinya...,
huh, aku benar-benar ingin menjumpainya....,
seandainya hari ini jadi...., aku tak perlu menunggu....

semoga di pekan ini kita bisa bersua....
setelah sekian lama....
aku ingin mendengar semuanya, semuanya....
cerita-cerita tentang hidupnya.....
yang dulu selalu dibagi dengan ku....aku ingin mendapat kepingan hidupnya lagi....
aku kangen dia....






Kamis, 17 Januari 2008

kecintaan-Ku

Dalam hadits qudsi, Allah berfirman:

Kecintaan-Ku pasti akan diberikan kepada orang-orang yang saling mencintai karena Aku....

Kecintaan-Ku berhak diperoleh oleh orang-orang yang saling mengunjungi karena Aku.....

Kecintaan-Ku berhak diperoleh oleh orang-orang yang saling mengunjungi karena Aku.....

Kecintaan-Ku berhak diperoleh oleh orang-orang yang saling memberi karena Aku......

Kecintaan-Ku berhak diperoleh oleh orang-orang yang saling menjalin persaudaraan karena Ku......