Bismillaahirrohmaanirrohiim
Assalamu'alaikum Wr Wb,
Ikrar telah diucapkan, Allah dan seluruh alam semesta menjadi saksi, kini mampukah diri menunaikannya?
Ikrar telah dilisankan, adakah hati turut meyakininya? Sudahkah raga melaksanakan amal-amalnya?
Bukankah iman adalah ketika hati, lisan, dan raga selaras...
Maka kini saatnya membuktikan dengan amal, dengan kerja, dengan gerak...
Kerja itu adalah rahmat, maka bekerjalah dengan keikhlasan
Kerja itu adalah amanah, maka bekerjalah dengan penuh tanggung jawab
Kerja itu adalah aktualisasi diri, maka bekerjalah dengan semangat
Kerja itu adalah ibadah, maka sertakanlah rasa kecintaan pada kerja-kerja kita
Kerja itu adalah seni, maka bekerjalah dengan kreatif dan inovatif
Kerja itu adalah kehormatan, maka bekerjalah dengan integritas
Kerja itu adalah pelayanan, maka bekerjalah dengan rendah hati
Kini saatnya bekerja, saudaraku...
Buktikan dengan kerja, buktikan dengan amal, buktikan dengan pelayanan...
Berikan manfaat sebanyak-banyaknya, bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya?
Luruskan kembali niat, ikhlaskah seluruh amal hanya tuk meraih ridho Allah, akhiratlah orientasi kita, jangan silau dengan dunia yang hanya sekejap..... akhiratlah tempat yang abadi, ke sana kita kan kembali....
Bekerjalah tanpa peduli pujian dan cacian orang, bekerjalah ikhlas hanya karena Allah, cukuplah Allah menjadi penolong....
Amanah ini memang berat, sangat berat...
Tapi, beban seberat apapun akan ringan ketika kita menghadirkan keikhlasan di dalamnya, ketika kita menyertakan kelapangan dada di dalamnya, ketika kita selalu memupuk semangat jiddiyah dalam kerja-kerja kita...
Kini saatnya untuk bekerja
Kini saatnya kita buktikan dengan amal
Kini saatnya tubuh kita berlelah-lelah, saat pikiran kita kuras, saatnya melapangkan hati sampai luasnya tak terhingga untuk kemaslahatan umat, untuk kemajuan dakwah Islam.
Bekerja untuk Kota Bogor, bekerja untuk Indonesia, bekerja karena Allah, untuk dan hanya untuk meraih ridho Allah semata...
- MARI BEKERJA, tunaikan amanah-amanah kita -
Translate
Tampilkan postingan dengan label semangat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label semangat. Tampilkan semua postingan
Senin, 25 April 2011
Minggu, 16 Januari 2011
IMPIAN HARI INI ADALAH KENYATAAN HARI ESOK
| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Other |
Janganlah engkau putus asa, karena putus asa bukanlah akhlak seorang muslim. Ketahuilah bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan di hari esok. Waktu masih panjang dan hasrat akan terwujudnya kedamaian masih tertanam dalam jiwa masyarakat kita, meski fenomena-fenomena kerusakan dan kemaksiatan menghantui mereka. Yang lemah tidak akan lemah sepanjang hidupnya dan yang kuat tidak akan selamanya kuat.
Allah swt. berfirman,
"Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman serta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu." (Al-Qashash: 5-6)
Putaran waktu akan memperlihatkan kepada kita peristiwa-peristiwa yang mengejutkan dan memberikan peluang kepada kita untuk berbuat. Dunia akan melihat bahwa dakwah kita adalah hidayah, kemenangan, dan kedamaian, yang dapat menyembuhkan umat dari rasa sakit yang tengah dideritanya. Setelah itu tibalah giliran kita untuk memimpin dunia, karena bumi tetap akan berputar dan kejayaan itu akan kembali kepada kita. Hanya Allah-lah harapan kita satu-satunya.
Bersiap dan berbuatlah, jangan menunggu datangnya esok hari, karena bisa jadi engkau tidak bisa berbuat apa-apa di esok hari.
Kita memang harus menunggu putaran waktu itu, tetapi kita tidak boleh berhenti. Kita harus terus berbuat dan terus melangkah, karena kita memang tidak mengenal kata "berhenti" dalam berjihad.
Allah swt. berfirman,
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, sungguh akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. "(Al-Ankabut: 69)
Hanya Allah-lah Dzat yang Maha Agung, bagi-Nya segala puji.
-Hasan Al-Banna-
Sabtu, 18 September 2010
Jika Sudah Mampu, Silahkan Jalankan ;)
Seusai mengajarnya menyetir mobil, setelah 3x pertemuan:
"Teh, aku udah bisa nyetir."
"udah siap turun ke jalan?"
"insya Allah siap, teh."
"mau pake mobil apa?"
"yang matic aja."
"oke, tolong bawa adik-adik kita jalan-jalan keliling kota ya?"
"siap!"
"tapi teteh juga ikut ya."
"siiip."
Perjalanan lancar, jalan yang dilalui relatif aman, tak banyak kendala yang ditemui... Kami semua menikmati perjalanan itu... Dia pun jadi banyak belajar menghadapi rambu2 lalu lintas, polisi tidur, kemacetan, dan pastinya belajar memegang amanah karena begitu banyak nyawa yang bergantung padanya, keselamatan dirinya dan kami bisa jadi beban untuknya.. Belajar menanggung beban di jalan yang nyaman..
Pelajaran sudah dibekali, pelatihan sudah dijalani, pengalaman sudah dikantongi. Hari berikutnya dia mencoba mengendarai mobil non-matic, tantangannya jelas lebih besar lagi. Namun dia harus berani mencoba atau dia tak kan pernah bisa. Walaupun sedikit kagok dan sempat beberapa kali mesin mobilnya mati saat terjebak macet tapi akhirnya ia berhasil sampai tujuan, toh jalanan yang dilalui juga jalan besar, tanpa lubang, dan tidak terlalu berkelok.
Sukses mengendarai mobil non-matic di jalan raya, dia sudah berani mengangkut penumpang, mengantar dan menjemput adik-adiknya ke sekolah, dia sudah berani menanggung keselamatan orang lain, good job!
Semakin lama dia semakin mahir menyetir, jalanan sempit, licin, berkelok, berliku, tempat parkir yang sempit, jalanan rusak, semuanya sudah berhasil ditaklukannya.. Maka dia pun sekarang sudah siap terjun dalam berbagai tantangan di jalanan.. Dia pun sudah mengajarkan adik-adiknya menyetir mobil.. Ya, pada akhirnya jalanan yang dihadapinya memang penuh lika liku, halang rintang, dan tak selalu mulus.. Tapi, dengan bekal pendidikan, pelatihan, dan pengalaman, ia siap hadapi segala rintangan..
Ada satu hal yang membuatnya matang, PROSES, semuanya berproses, ada tahapan2 yang dengan sabar dilaluinya.. Setelah mampu menyetir, sebagai pemula ia memilih mobil matic dan ia diamanahi melalui jalanan yang tidak terlalu sulit, dan tetap didampingi. Bayangkan jika sebagai pemula, tanpa pengalaman yang matang ia langsung menempuh jalanan nagrek dgn mobil hi-jet tanpa didampingi, bisa jadi bukan sampai tujuan malah sampai kuburan..
Sabar dalam berproses,, berikan amanah pada seseorang sesuai kapasitasnya,, bekali dengan cukup sesuai kebutuhannya,, dan beri kepercayaan,, jangan sampai sudah diajari menyetir tapi tak pernah diijinkan untuk menyetir,,
-catatan tengah malam-
flo
"Teh, aku udah bisa nyetir."
"udah siap turun ke jalan?"
"insya Allah siap, teh."
"mau pake mobil apa?"
"yang matic aja."
"oke, tolong bawa adik-adik kita jalan-jalan keliling kota ya?"
"siap!"
"tapi teteh juga ikut ya."
"siiip."
Perjalanan lancar, jalan yang dilalui relatif aman, tak banyak kendala yang ditemui... Kami semua menikmati perjalanan itu... Dia pun jadi banyak belajar menghadapi rambu2 lalu lintas, polisi tidur, kemacetan, dan pastinya belajar memegang amanah karena begitu banyak nyawa yang bergantung padanya, keselamatan dirinya dan kami bisa jadi beban untuknya.. Belajar menanggung beban di jalan yang nyaman..
Pelajaran sudah dibekali, pelatihan sudah dijalani, pengalaman sudah dikantongi. Hari berikutnya dia mencoba mengendarai mobil non-matic, tantangannya jelas lebih besar lagi. Namun dia harus berani mencoba atau dia tak kan pernah bisa. Walaupun sedikit kagok dan sempat beberapa kali mesin mobilnya mati saat terjebak macet tapi akhirnya ia berhasil sampai tujuan, toh jalanan yang dilalui juga jalan besar, tanpa lubang, dan tidak terlalu berkelok.
Sukses mengendarai mobil non-matic di jalan raya, dia sudah berani mengangkut penumpang, mengantar dan menjemput adik-adiknya ke sekolah, dia sudah berani menanggung keselamatan orang lain, good job!
Semakin lama dia semakin mahir menyetir, jalanan sempit, licin, berkelok, berliku, tempat parkir yang sempit, jalanan rusak, semuanya sudah berhasil ditaklukannya.. Maka dia pun sekarang sudah siap terjun dalam berbagai tantangan di jalanan.. Dia pun sudah mengajarkan adik-adiknya menyetir mobil.. Ya, pada akhirnya jalanan yang dihadapinya memang penuh lika liku, halang rintang, dan tak selalu mulus.. Tapi, dengan bekal pendidikan, pelatihan, dan pengalaman, ia siap hadapi segala rintangan..
Ada satu hal yang membuatnya matang, PROSES, semuanya berproses, ada tahapan2 yang dengan sabar dilaluinya.. Setelah mampu menyetir, sebagai pemula ia memilih mobil matic dan ia diamanahi melalui jalanan yang tidak terlalu sulit, dan tetap didampingi. Bayangkan jika sebagai pemula, tanpa pengalaman yang matang ia langsung menempuh jalanan nagrek dgn mobil hi-jet tanpa didampingi, bisa jadi bukan sampai tujuan malah sampai kuburan..
Sabar dalam berproses,, berikan amanah pada seseorang sesuai kapasitasnya,, bekali dengan cukup sesuai kebutuhannya,, dan beri kepercayaan,, jangan sampai sudah diajari menyetir tapi tak pernah diijinkan untuk menyetir,,
-catatan tengah malam-
flo
Rabu, 02 Desember 2009
Minggu, 18 Oktober 2009
JALAN CINTA PARA PEJUANG
| Rating: | |
| Category: | Books |
| Genre: | Religion & Spirituality |
| Author: | Salim A. Fillah |
Mencintai Sejantan Ali
kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah,
maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta padaNya,
pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki:
selamanya memberi yang bisa kita berikan,
selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.
-M. Anis Matta-
Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada
siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi
yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya,
ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu
hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang
dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh
cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah
ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis.
Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian
oleh kaumnya!
Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di
sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan
tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik
mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu
kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!
‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang
tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah
dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya
dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa
sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan;
Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.
”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena
merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr
lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti
’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak
tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi
dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti
maut di ranjangnya..
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak
tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan
Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn
Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak
kurang pergaulan seperti ’Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim
yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab,
keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang
dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar,
insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin
dari keluarga miskin.
”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali. ”Aku mengutamakan Abu
Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau
mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap
di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus
menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.
Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur,
datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan
perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum
muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat
syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn
Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu
juga datang melamar Fathimah.
’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan
Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang
menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang
menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang
mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali
mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama
Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk
bersama Abu Bakr dan ’Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi
Rasul, di sisi ayah Fathimah.
Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar
melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam
kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu
’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam.
Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit
pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia
thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya.
”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin
isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa
henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”
’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari
semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap
menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh
lebih layak. Dan ’Ali ridha.
Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan
untuk kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah meminta
untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau
mempersilakan. Yang ini pengorbanan.
Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga
ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti
’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti
Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy
itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu
sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya
’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi
ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan
dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan
elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh
semangat itu?
”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman
Ansharnya itu membangunkan lamunan.
”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat,
engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”
’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri,
disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia
tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada
satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk
makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap?
Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia
siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.
”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan.
Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap
memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah
Maha Kaya.
Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang
bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan
selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat
penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk
menjawab. Mungkin tidak sekarang.
Tapi ia siap ditolak. Itu resiko.
Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang
tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera
tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka, ”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu
saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya.
Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya
berarti ya!”
Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya.
Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi
berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.
Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar,
dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan
janji-janji dan nanti-nanti.
’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki
yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”
Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan
semua perasaan dengan tanggungjawab.
Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia
mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah
pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.
Dan bagi pencinta sejati, selalu ada yang manis dalam mencecap keduanya.
Cinta emosional kawan,
membuat kita nyaman berada dalam lingkaran syaithan
mencecap banyak haq tanpa berani mengambil kewajiban yang (harusnya)
menjadi bayaran atasnya
maka ia hanya kan jadi bayang-bayang tanpa iman,
yang menunggu datangnya kekecewaan
Namun cinta rasional,
Ia peka. Ia gelisah. Ia tak nyaman dengan segala ketergantungan.
Ia takut pada Rabbnya.
Maka ia bergerak, berderap, melaju
melesat melebihi tenaga yang ia miliki
karna yang ia tahu hanya satu,
Di jalan cinta para pejuang, kita belajar untuk bertanggungjawab atas
setiap perasaan kita.
Senin, 14 September 2009
10 Malam Terakhir 10 Malam Terindah 10 Malam yg Tak Terlupakan.....
Tahukah....
pada akhir bulan Ramadhan, langit bintang-bintang bumi beserta isinya menangis bersedih karena sebentar lagi bulan yg penuh kemuliaan ini akan berlalu..., bagaimanakah dengan kita?? adakah kesedihan itu sampai di hati kita? tentu, kesedihan kita pasti jauh lebih menyayat karena kita tak pernah tahu apakah tahun depan masih dapat berjumpa lgi dengan bulannya Al-Quran ini ataukah ini akan menjadi Ramadhan terakhir bagi kita??? Wallahu'alam....
DI penghujung Ramadhan, ada satu hari yg bernilai satara dengan 1000 bulan, satu malam
Saudaraku....
yuk sama-sama kita optimalkan 10 malam terakhir untuk berburu lailatul qadar...
untuk itu, kita butuh beberapa bekal....bekal ini saya dapatkan saat jalasah ruhiyah (by ibu Neni):
1. Niat yang kuat.......niat yg benar-benar kuat untuk berburu lailatul qadar....dengan niat yg kuat maka akan diberi kekuatan lebih olah Allah, seberat apapun perjuangan kita, selelah apapun kita di siang hari, insya Allah pada malah hari kita akan tetap kuat tuk menghidupkan malam dan beritikaf.....Semua berawal dari niat....there's a will there's a way....
2. Kesungguhan
---Man Jadda wa Jadda--
"Barangsiapa siapa yg bersungguh-sungguh maka dia akan mendapatkannya"
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS : Al Ankabut ayat 69)
Selalu ada jalan untuk orang-orang yang bersungguh-sungguh.....
3. Membuat perencanaan yang matang dan detail.....
gagal merencanakan sama saja dengan meerencanakan kegagalan loh....
apa saja yg perlu direncanakan???
buat jadwal harian bahkan pastikan tak ada detik dalam hidup kita yg terbuang sia2 untuk aktivitas yg kurang bermanfaat, optimalkan untuk tilawah, shalat, berdoa, berdzikir,....
buat daftar surat-surat yg akan dibaca di setiap shalat wajib dan shalat sunnah, dan pastikan kita tau kandungan isi suratnya agar saat dibaca dalam shalat kita bs lbh menghayati....
buat daftar doa-doa yg akan dipanjatkan di setiap malam, jangan biarkan malam2mu terlewati tanpa pengharapan....
buat jadwal tilawah quran dan buat langkah2 antisipasi bila berjalan tidak sesuai rencana...., misalnya saat kelelahan dan mengantuk, bisa tilawah sambil berjalan....atau memanfaatkan waktu2 di perjalanan (di angkot atau di kereta) untuk bertilawah....sediakan waktu di siang hari menjelang dzuhur untuk tidur sebentar (5-10 menit saja, jangan lebih....) karena tidur sebentar di saiang hari akan mendukung aktivitas kita di malam hari agar kuat begadang....
menyiapkan menu-menu yang akan mendukung aktivitas tubuh kita agar tetap bugar di malam maupun siang hari...., misalnya mengurangi karbohidrat agar tidak mengantuk, memperbanyak makan buah dan sayur..., minum susu dan madu....minuman jahe juga akan sangat mendukung aktivitas tilawah di malam hari.... fyi, jahe adalah minuman penghuni surga loh....
Apa saja doa yang dianjurkan dipanjatkan di 10 malam terakhir???
Allahumma innaka affuwwun tu hibbul afwa fafu 'anna yaa kariim......
Di bulan Ramadhan perbanyaklah:
1. Bersyahadat
2. Istighfar
3. Berdoa memohon surga dan memohon dihindarkan dari neraka
Di antara orang-orang yang dirindukan oleh surga adalah orang yang selalu beristighfar dan berdzikir....
***Rahmat Allah ada 100, dan ternyata yang diberi untuk penduduk bumi seluruhnya hanyalah 1, yang hanya 1 ini dibagi-bagi untuk seluruh penduduk bumi, baik yang beriman maupun yang tidak beriman....lalu bagaimana dengan yang 99?? sisanya, yang 99 disediakan Allah di akhirat kelak, kenikmatan yang tiada tara dan tiada batas......Jadi apakah rela berebut rahmat Allah di dunia yg hanya 1 itu dengan mengorbankan akhiratmu??***
Isi Ramadhan dengan:
ibadah puasa
ibadah qiyamul lail dan tilawah
perbanyak berdoa
utamakan waktu sahur dan manfaatkan seoptimal mungkin
ITIKAF adalah puncak ibadah di bulan Ramadhan......
ibadah puasa
ibadah qiyamul lail dan tilawah
perbanyak berdoa
utamakan waktu sahur dan manfaatkan seoptimal mungkin
ITIKAF adalah puncak ibadah di bulan Ramadhan......
the last........
saudaraku.......
SELAMAT BERBURU MALAM LAILATUL QADAR.....
Selasa, 08 September 2009
KQ=Keluargaquran.com » Download
http://keluargaquran.com/unduh/
eBook Jurus Jitu Menghapal Quran
download gratis loh....
Insya Allah bermanfaat...
eBook Jurus Jitu Menghapal Quran
download gratis loh....
Insya Allah bermanfaat...
Minggu, 13 April 2008
siCk oR iLL???
Secara teori, sehat adalah keadaan sempurna, baik fisik, mental, dan sosial dan tidak hanya bebas dari penyakit dan cacat serta produktif secara ekonomi dan sosial......
Dengan kata lain, sehat secara FISIK; MENTAL; SOSIAL; DAN EKONOMI.....
SO, SUDAH SEHATKAH KITA????
Waduh, repot juga yaa, .....
coba kita kupas atu-atu dimensi sehat:
PERTAMA, secara fisik, tubuh ku sedang berjuang melawan berbagai virus, bakteri, jamur, parasit, ect....i can feel it, tubuhku letih, ia demam, tenggorokan sakit, sariwan dimana-mana (pasti karena faktor stress deh). Dampaknya, produktifitas rendah, bawaannya males mulu,,,,menyebalkan.... Tapi jangan berpikir aku akan menyerah pada makhluk bernama obat yang notabene adalah kumpulan zat kimia sintetis dan punya sifat racun yang hanya mengobati penyakitmu seketika dan dalam hitungan tahun berubah menjadi pemangsa ginjal (ga heran banyak orang yg berakhir dengan cuci darah dan cangkok ginjal)..... Lalu, apa yang kulakukan....? TIDUR, minum madu, jeruk nipis, jahe, susu, makan yang bener,apapun yang bisa bikin imunitas tubuh ku bangkit dari tidurnya, aktifin antibody yg secara alamiah emang ada. Tubuh kita cukup cerdas ko, tapi bisa manja dan males kalo kebiasaan dikasih obat....
kedua, secara MENTAL, apa iya aku masih bisa berpikir secara logis dan rasional? dalam kondisi underpressure, logika entah pergi kemana....mungkin ia sedang tamasya dan meninggalkan pemiliknya dalam kebingungan amat sangat...
STRESS!!!! sebenernya inilah sumber utama sakit mental yang berimbas pada fisik, sosial, dan ekonomi..... Parahnya lagi, rasa ini tak dapat diekspresikan, tertahan (mudah2an tulisan ini bisa jadi media untuk menyalurkan dan mengekspresikan rasa ini).... Untuk yg satu ini emang sulit, tapi sebenernya akar dari segala masalah. Kondisi mentalku sedang tidak sehat, pemicunya adalah stress dikejar deadline, ketidakpastian, perubahan2 mendadak, dan aku ga bisa berbuat apa-apa, pasrah??? NOPE, ga akan, aku bakal tetap berjuang, of course, aku ga selemah itu, iya kan? Biarkan untuk sesaat, JIWA KU BERISTIRAHAT, tapi ia akan kembali.....dengan jiwa baru yang lebih fresh yang lebih siap hadapi segala tantangan. Anggap ajah saat ini dia lagi membentuk antibody baru untuk melawan penyakit2 baru.... Gimana dengan hati? yah, emang ga cuamn mental, tapi ada benda asing yang juga berusaha menembus hatiku, tapi itu ga akan ku biarkan, ga akan kubiarkan benda asing itu mengotori hatiku, merusaknya, apalagi menyakitinya sampai dalam. ga akan., walaupun saat ini ia telah berhasil masuk ke selaput bagian luar, aku akan berusah mengeluarkannya, meski akan sakit, tapi takkan sesakit jika ia telah masuk ke dalamnya.... in process....to out it....sedikit menyakitkan, tapi tak apalah....
ketiga, secara SOSIAL, aku tak punya masalah dengan yg satu ini, tapi entah mengapa, belakangannya aku lebih menikmati kesendirian, sedang menikmati hubungan vertikal, dan sedikit menjauh dari hubungan sosial (horizontal)....Why? i dunno.... Mungkin secara sosial pun aku mulai sakit....simptom nya sudah muncul...huaahhhhh....i'm sick!!!!
keempat, secara ekonomi, jelas ini masalah, aku belum berpenghasilan,,,,,,walaupun secara status memang masih mahasiswa, tapi sampai kapan hidup bergantung terus dengan orang tua? mau jadi parasit selamanya? ya enggak lah.... Emang sih, udah mulai kerja kecil2an, udah punya penghasilan tidak tetap, tapi belum dapat dikatakan mapan secara ekonomi, dan belum bisa dikatakan sehat....
MENYEDIHKAN......TAPI AKU GA AKAN KALAH....SEMUA PASTI BISA DILALUI.....EVERYTHING IS OKEY.....DON'T WORRY BE HAPPY.....HADAPI DENGAN SENYUM......

Dengan kata lain, sehat secara FISIK; MENTAL; SOSIAL; DAN EKONOMI.....
SO, SUDAH SEHATKAH KITA????
Waduh, repot juga yaa, .....
coba kita kupas atu-atu dimensi sehat:
- fisik : semua fungsi tubuh berfungsi normal atau tidak adanya gangguan fuingsi tubuh
- mental : pikiran------berpikit logis/ rasional; emosi------mampu mengekspresikan emosinya; spiritual-------menjalankan syariat agamanya.
- sosial : mampu berinteraksi dengan lingkungan sosialnya
- ekonomi : produktif secara ekonomi atau melakukan kegiatan sosial (khusus pelajar dan mahasiswa)
PERTAMA, secara fisik, tubuh ku sedang berjuang melawan berbagai virus, bakteri, jamur, parasit, ect....i can feel it, tubuhku letih, ia demam, tenggorokan sakit, sariwan dimana-mana (pasti karena faktor stress deh). Dampaknya, produktifitas rendah, bawaannya males mulu,,,,menyebalkan.... Tapi jangan berpikir aku akan menyerah pada makhluk bernama obat yang notabene adalah kumpulan zat kimia sintetis dan punya sifat racun yang hanya mengobati penyakitmu seketika dan dalam hitungan tahun berubah menjadi pemangsa ginjal (ga heran banyak orang yg berakhir dengan cuci darah dan cangkok ginjal)..... Lalu, apa yang kulakukan....? TIDUR, minum madu, jeruk nipis, jahe, susu, makan yang bener,apapun yang bisa bikin imunitas tubuh ku bangkit dari tidurnya, aktifin antibody yg secara alamiah emang ada. Tubuh kita cukup cerdas ko, tapi bisa manja dan males kalo kebiasaan dikasih obat....
kedua, secara MENTAL, apa iya aku masih bisa berpikir secara logis dan rasional? dalam kondisi underpressure, logika entah pergi kemana....mungkin ia sedang tamasya dan meninggalkan pemiliknya dalam kebingungan amat sangat...
STRESS!!!! sebenernya inilah sumber utama sakit mental yang berimbas pada fisik, sosial, dan ekonomi..... Parahnya lagi, rasa ini tak dapat diekspresikan, tertahan (mudah2an tulisan ini bisa jadi media untuk menyalurkan dan mengekspresikan rasa ini).... Untuk yg satu ini emang sulit, tapi sebenernya akar dari segala masalah. Kondisi mentalku sedang tidak sehat, pemicunya adalah stress dikejar deadline, ketidakpastian, perubahan2 mendadak, dan aku ga bisa berbuat apa-apa, pasrah??? NOPE, ga akan, aku bakal tetap berjuang, of course, aku ga selemah itu, iya kan? Biarkan untuk sesaat, JIWA KU BERISTIRAHAT, tapi ia akan kembali.....dengan jiwa baru yang lebih fresh yang lebih siap hadapi segala tantangan. Anggap ajah saat ini dia lagi membentuk antibody baru untuk melawan penyakit2 baru.... Gimana dengan hati? yah, emang ga cuamn mental, tapi ada benda asing yang juga berusaha menembus hatiku, tapi itu ga akan ku biarkan, ga akan kubiarkan benda asing itu mengotori hatiku, merusaknya, apalagi menyakitinya sampai dalam. ga akan., walaupun saat ini ia telah berhasil masuk ke selaput bagian luar, aku akan berusah mengeluarkannya, meski akan sakit, tapi takkan sesakit jika ia telah masuk ke dalamnya.... in process....to out it....sedikit menyakitkan, tapi tak apalah....
ketiga, secara SOSIAL, aku tak punya masalah dengan yg satu ini, tapi entah mengapa, belakangannya aku lebih menikmati kesendirian, sedang menikmati hubungan vertikal, dan sedikit menjauh dari hubungan sosial (horizontal)....Why? i dunno.... Mungkin secara sosial pun aku mulai sakit....simptom nya sudah muncul...huaahhhhh....i'm sick!!!!
keempat, secara ekonomi, jelas ini masalah, aku belum berpenghasilan,,,,,,walaupun secara status memang masih mahasiswa, tapi sampai kapan hidup bergantung terus dengan orang tua? mau jadi parasit selamanya? ya enggak lah.... Emang sih, udah mulai kerja kecil2an, udah punya penghasilan tidak tetap, tapi belum dapat dikatakan mapan secara ekonomi, dan belum bisa dikatakan sehat....
MENYEDIHKAN......TAPI AKU GA AKAN KALAH....SEMUA PASTI BISA DILALUI.....EVERYTHING IS OKEY.....DON'T WORRY BE HAPPY.....HADAPI DENGAN SENYUM......
Langganan:
Postingan (Atom)